Hadapi Musim Kemarau, Ahmad Luthfi Instruksikan Pengecekan Embung dan Irigasi

waktu baca 2 menit
Rabu, 8 Apr 2026 17:36 2 Ella Elisa

NALARMEDIA.COM — Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, menginstruksikan jajarannya untuk melakukan pengecekan menyeluruh terhadap embung dan saluran irigasi sebagai langkah antisipasi menghadapi musim kemarau yang diperkirakan mulai April 2026.

Langkah tersebut dilakukan guna memastikan ketersediaan air baku serta kebutuhan irigasi pertanian tetap terpenuhi, sehingga produktivitas petani di Jawa Tengah dapat terjaga.

“Saya ingin memastikan seluruh embung dicek secara menyeluruh. Embung memiliki peran penting dalam memenuhi kebutuhan air baku maupun irigasi persawahan,” ujar Ahmad Luthfi saat meninjau Embung Alastuwo di Desa Wonolepo, Kecamatan Tasikmadu, Kabupaten Karanganyar, Rabu (7/4/2026).

Embung Alastuwo sendiri merupakan infrastruktur yang dibangun Pemerintah Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2017, dengan kapasitas tampung sekitar 6.723,30 meter kubik. Keberadaannya dimanfaatkan sebagai sumber air baku bagi 186 kepala keluarga serta mengairi lahan pertanian seluas 35 hektare saat musim kemarau.

Lebih lanjut, Ahmad Luthfi mengungkapkan bahwa sejak tahun 2025 hingga awal 2026, telah dibangun sedikitnya 12 embung baru di berbagai wilayah Jawa Tengah. Meski demikian, jumlah tersebut dinilai masih belum mencukupi kebutuhan.

Ia pun meminta para kepala daerah untuk segera mengusulkan pembangunan embung di wilayah yang masih membutuhkan. “Kami sudah sampaikan kepada bupati dan wali kota, jika masih ada daerah yang membutuhkan embung, segera diusulkan agar bisa dianggarkan,” jelasnya.

Selain pembangunan baru, optimalisasi fungsi embung yang sudah ada juga menjadi perhatian. Termasuk memastikan saluran irigasi yang mengarah ke lahan pertanian dapat berfungsi dengan baik selama musim kemarau.

Menurutnya, keberadaan embung sangat berperan dalam mendukung peningkatan produktivitas pangan, khususnya padi, guna mewujudkan swasembada pangan di Jawa Tengah. Pada tahun 2026, target produksi padi ditetapkan mencapai 10,55 juta ton Gabah Kering Giling (GKG).

“Tahun sebelumnya, produksi kita hampir mencapai 9,7 juta ton atau sekitar 15,6 persen dari kebutuhan nasional. Jawa Tengah berada di posisi kedua, dan ke depan kami ingin menjadi yang pertama,” tegasnya.

Sebagai langkah tambahan, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah juga menjalin koordinasi dengan Kodam IV/Diponegoro yang memiliki program pipanisasi dan sumurisasi. Upaya ini dilakukan untuk memperkuat ketersediaan air di wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan.

Koordinasi juga dilakukan bersama pemerintah kabupaten/kota untuk memetakan daerah-daerah yang membutuhkan intervensi tersebut selama musim kemarau.

Sementara itu, salah satu petani di Kecamatan Tasikmadu mengaku keberadaan Embung Alastuwo sangat membantu, terutama pada musim tanam kedua dan ketiga yang umumnya berlangsung saat kemarau. Ketersediaan air dari embung dinilai sangat mendukung keberlangsungan pertanian di wilayah tersebut. (*)

LAINNYA