Studi Ungkap Makanan Ultra-Olahan Bisa Turunkan IQ Anak, Orang Tua Perlu Waspada

waktu baca 3 menit
Minggu, 21 Jun 2026 23:14 7 Rudi Sidarta

NALARMEDIA.COM – Pola makan anak pada masa awal kehidupan ternyata dapat memengaruhi perkembangan otak hingga usia sekolah. Sebuah studi terbaru menemukan bahwa anak yang terbiasa mengonsumsi makanan ultra-olahan dan tinggi gula sejak usia dua tahun cenderung memiliki skor kecerdasan (IQ) lebih rendah dibandingkan anak dengan pola makan yang lebih sehat.

Temuan tersebut dipublikasikan dalam jurnal ilmiah British Journal of Nutrition dan semakin memperkuat pentingnya pemenuhan gizi seimbang pada periode emas tumbuh kembang anak.

Penelitian yang dilakukan oleh tim dari Universitas Federal Pelotas, Brasil, dan Universitas Illinois Urbana-Champaign, Amerika Serikat, melibatkan lebih dari 3.400 anak yang dipantau sejak usia balita hingga memasuki usia sekolah.

Para peneliti mengumpulkan data pola makan anak saat berusia dua tahun melalui kuesioner yang diisi orang tua. Selanjutnya, ketika anak berusia enam hingga tujuh tahun, kemampuan kognitif mereka diukur menggunakan Wechsler Intelligence Scale for Children (WISC), salah satu metode standar internasional untuk mengukur kecerdasan anak.

Makanan Ultra-Olahan Jadi Sorotan

Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan yang konsisten antara konsumsi makanan ultra-olahan dengan kemampuan kognitif yang lebih rendah.

Makanan ultra-olahan yang dimaksud antara lain produk seperti sosis, nugget, mi instan, camilan kemasan, makanan ringan tinggi gula, serta berbagai produk yang melalui proses industri intensif dan mengandung banyak bahan tambahan.

Anak-anak yang lebih sering mengonsumsi jenis makanan tersebut pada usia dua tahun tercatat memiliki skor IQ lebih rendah saat memasuki usia sekolah dibandingkan anak yang mengonsumsi makanan bergizi seimbang.

Menariknya, hubungan tersebut tetap terlihat meskipun peneliti telah memperhitungkan berbagai faktor lain yang dapat memengaruhi kecerdasan anak, seperti tingkat pendidikan orang tua, kondisi ekonomi keluarga, hingga stimulasi belajar di lingkungan rumah.

Masa Emas Perkembangan Otak

Para ahli menjelaskan bahwa dua tahun pertama kehidupan merupakan periode krusial bagi perkembangan otak manusia. Pada fase tersebut, otak mengalami pertumbuhan sangat cepat dan membentuk jutaan koneksi saraf yang berperan dalam proses belajar, mengingat, serta kemampuan berpikir.

Untuk mendukung proses tersebut, anak membutuhkan asupan nutrisi penting seperti zat besi, seng, protein, vitamin, dan lemak sehat dalam jumlah yang cukup.

Kekurangan nutrisi penting pada masa awal kehidupan dikhawatirkan dapat memengaruhi perkembangan fungsi otak secara optimal.

“Masa balita merupakan periode yang sangat menentukan perkembangan kognitif. Kualitas makanan yang dikonsumsi anak pada fase ini dapat memberikan dampak jangka panjang terhadap kemampuan belajar dan perkembangan intelektualnya,” tulis para peneliti dalam laporan studi tersebut.

Pentingnya Pola Makan Sehat Sejak Dini

Temuan ini menjadi pengingat bagi orang tua untuk lebih memperhatikan kualitas makanan yang dikonsumsi anak, terutama pada usia balita.

Para ahli menyarankan agar anak lebih banyak mengonsumsi makanan segar seperti sayur, buah, ikan, telur, susu, kacang-kacangan, dan sumber protein lainnya dibandingkan makanan instan atau tinggi gula.

Meski penelitian ini menunjukkan adanya hubungan antara pola makan dan kemampuan kognitif, para peneliti menegaskan bahwa kecerdasan anak tetap dipengaruhi oleh banyak faktor lain, termasuk lingkungan keluarga, pendidikan, kesehatan, serta stimulasi yang diterima selama masa tumbuh kembang.

Namun demikian, memastikan anak mendapatkan asupan gizi yang baik sejak dini dinilai menjadi salah satu investasi penting untuk mendukung perkembangan otak dan kualitas hidup mereka di masa depan. (*)

LAINNYA