Mohammad Saleh Dampingi Menteri Bahlil Tinjau Bantuan Listrik Desa di Purworejo

waktu baca 2 menit
Selasa, 23 Jun 2026 12:40 3 Fajrul Amienurrahman Mahmud

NALARMEDIA.COM – Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah, Mohammad Saleh, turut serta mendampingi Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) RI, Bahlil Lahadalia, saat meninjau langsung Desa Hardimulyo, Kabupaten Purworejo, pada Jumat (19/06/2026). Kunjungan kerja ini bertujuan memantau penyaluran bantuan kelistrikan bagi warga setempat.

Dalam agenda tersebut, Menteri Bahlil secara resmi meluncurkan Program Listrik Desa (Lisdes) sekaligus Bantuan Pasang Baru Listrik (BPBL). Langkah nyata ini menunjukkan keseriusan pemerintah dalam mempercepat pemerataan akses energi, sehingga masyarakat yang tinggal di pelosok negeri bisa segera menikmati penerangan.

Menanggapi hal itu, Mohammad Saleh menegaskan komitmennya untuk terus mendukung jalannya program pemerataan ini. Ia menilai akses listrik adalah hak dasar setiap warga negara, sehingga seluruh masyarakat desa berhak merasakan fasilitas tersebut tanpa terkecuali.

“Kami sangat bersyukur masyarakat bisa menikmati listrik gratis dan bisa beraktivitas di malam hari tanpa harus nyalur listrik dari tetangga atau menggunakan senter lagi,” ungkap Ketua DPD Golkar Jateng tersebut.

Pada kesempatan yang sama, Bahlil menyoroti realitas bahwa meski Indonesia sudah 80 tahun merdeka, masih ada sekitar 5.700 desa dan 4.400 dusun yang kekurangan layanan penerangan. Fakta ini mendorong pemerintah untuk mengambil tindakan serius dan mempercepat eksekusi Program Lisdes ke berbagai wilayah di Indonesia.

“Ide program pemerataan ini muncul ketika saya berdiskusi dengan Bapak Presiden. Saya sampaikan bahwa masih ada ribuan desa dan dusun yang belum ada listrik. Negara harus hadir untuk melayani seluruh rakyat,” kata Bahlil.

Menteri ESDM itu rupanya mempunyai ikatan emosional tersendiri terkait masalah elektrifikasi. Bahlil bercerita bagaimana ia menghabiskan masa kecilnya di Papua tanpa fasilitas penerangan yang memadai, dan baru merasakan aliran listrik saat menginjak kelas enam Sekolah Dasar (SD).

“Saya juga lahir tidak ada listrik. Belajarnya pakai lampu pelita. Karena itu saya tahu betul bagaimana rasanya hidup tanpa listrik,” ujar Ketua Umum Partai Golkar tersebut.

Lebih lanjut, Bahlil mengingatkan agar masyarakat perkotaan tidak menjadi satu-satunya pihak yang menikmati fasilitas energi. Penduduk yang menetap di desa, dusun, maupun daerah terluar berhak mendapat pelayanan yang sama layaknya di kota besar.

Ia sekaligus mematahkan stigma yang menyebut krisis listrik hanya melanda kawasan Indonesia Timur. Kenyataannya, Pulau Jawa yang dekat dengan pusat pemerintahan pun masih menyimpan sejumlah titik permukiman tanpa pasokan jaringan listrik yang optimal.

“Kita sering berpikir persoalan ini hanya terjadi di Papua atau wilayah timur. Faktanya, di Jawa pun masih ada dusun-dusun yang belum mendapatkan layanan listrik secara penuh,” ungkapnya.

Fajrul Amienurrahman Mahmud

LAINNYA