Tangis Haru Lionel Scaloni Usai Argentina Kalah di Final Piala Dunia 2026

waktu baca 4 menit
Senin, 20 Jul 2026 15:56 26 Fajrul Amienurrahman Mahmud

NALARMEDIA.COM – Pelatih timnas Argentina, Lionel Scaloni, merasakan campur aduk antara kesedihan mendalam dan rasa syukur usai timnya menelan kekalahan di partai puncak Piala Dunia FIFA 2026. Argentina harus merelakan gelar juara setelah tumbang 1-0 dari Spanyol lewat babak perpanjangan waktu.

Sesaat setelah peluit panjang berbunyi, Scaloni masih menyempatkan diri berbicara untuk mengapresiasi perjuangan tak kenal lelah skuadnya. Ia tidak menutupi rasa kecewanya, namun tetap berjiwa besar mengakui ketangguhan tim lawan.

“Saya merasa sedih, tetapi juga bangga karena kami telah memberikan segalanya. Ada banyak hal yang bisa saya katakan tentang bagaimana kami sampai sejauh ini, tetapi sekarang bukan waktunya. Saya akan selamanya berterima kasih kepada para pemain ini karena telah memberi kami final Piala Dunia lainnya dan karena telah berjuang hingga akhir. Spanyol adalah tim yang lebih baik; itulah kenyataannya,” kata pelatih Argentina tak lama setelah peluit akhir berbunyi.

Sang pelatih menekankan pentingnya menghargai proses panjang yang telah dilalui La Albiceleste. Baginya, kekalahan di partai final tidak menghapus pencapaian luar biasa Argentina hingga bisa kembali mencapai titik ini.

“Saya akan selalu menghargai apa yang telah mereka lakukan dan apa artinya telah sampai sejauh ini. Kita harus sangat menghargai itu karena ini sangat sulit. Kami tahu bagaimana cara menang, dan juga harus tahu bagaimana cara kalah. Hari ini kami menunjukkannya. Kami kalah dalam pertandingan dan harus menerimanya. Tetapi itu tidak berarti kami akan melupakan semua yang telah dilakukan untuk sampai di sini,” tambahnya.

Masih berada di atas lapangan, pelatih berusia 48 tahun ini mengirimkan pesan menyentuh untuk seluruh masyarakat Argentina yang terus memberikan dukungan penuh.

“Saya ingin berterima kasih kepada para penggemar, para pemain saya, dan negara, dan memberi tahu mereka bahwa kami telah memberikan segalanya. Kenyataannya adalah kami memasuki pertandingan dengan tangan terikat. Tetapi ketika para pemain memberikan segalanya seperti yang mereka lakukan hari ini, mereka memberikan contoh yang bagus bagi rakyat dan negara kami. Dan yang terpenting, ketika Anda kalah, Anda tidak punya pilihan selain bangkit dan terus maju.”

Saat menghadiri konferensi pers resmi, Scaloni membeberkan berbagai kendala teknis yang menyulitkan timnya menghadapi Spanyol. Argentina harus memutar otak setelah kehilangan beberapa pemain kunci akibat cedera, ditambah kartu merah yang diterima oleh Enzo Fernandez.

“Kami harus mengganti tiga dari empat pemain bertahan. Itu bukan alasan, tetapi dampak fisiknya sangat besar. Para pemain ini datang dalam kondisi terbaik dan melakukan upaya terakhir, tetapi melawan tim seperti itu, jika Anda tidak dalam kondisi puncak, Anda bisa menanggung akibatnya. Tetapi jika ada satu tim yang mampu bertahan dalam pertandingan hingga akhir, itu adalah kami.”

Menjelang akhir sesi wawancara, awak media menanyakan tentang kemungkinan pensiunnya Lionel Messi serta masa depan Scaloni sendiri di timnas, mengingat kontraknya akan berakhir pada bulan Desember.

“Sejujurnya, saya belum berbicara dengan Leo,” kata Scaloni. “Sedangkan untuk saya, saya akan berbicara dengan presiden (AFA, Claudio Tapia). Saya punya gambaran kasar tentang apa yang ingin saya lakukan. Saya akan menyelesaikan kontrak dan kemudian kita lihat saja nanti. Sejujurnya, saya merasa perlu waktu untuk berpikir juga karena saya tidak tahu apakah kita akan pernah bisa melakukan sesuatu sebesar ini lagi… sesuatu yang diimpikan semua orang.”

Suasana ruang konferensi pers seketika berubah menjadi emosional. Suara Scaloni mulai bergetar. Ia mengusap matanya yang berkaca-kaca dan menggebrak meja perlahan, yang langsung mendapat sambutan tepuk tangan hangat dari para jurnalis yang hadir.

“Kami berusaha semaksimal mungkin hingga akhir sebagai staf pelatih, dan para pemain pun melakukan hal yang sama. Saya rasa wajar jika saya meluangkan waktu untuk memikirkannya. Tempat ini luar biasa, sungguh luar biasa. Merupakan mimpi untuk berada di sini. Bahkan dalam mimpi terliar saya pun, saya atau kami semua di staf pelatih tidak pernah berpikir akan berada di sini,” ucapnya terbata-bata menahan tangis.

Menyadari beratnya tugas membangun kembali mental tim setelah kekalahan menyakitkan ini, Scaloni menutup sesi tersebut dengan kalimat perpisahan yang mengharukan.

“Jadi, Anda membutuhkan banyak hal. Anda harus mengatur ulang dan membangun kembali tim seperti ini,” akunya. “Menciptakan kembali sesuatu seperti ini adalah tugas yang sangat besar dan itu menyakitkan. Sangat menyakitkan. Saya minta maaf.”

Scaloni kemudian berdiri dan meninggalkan ruangan, diiringi tepuk tangan panjang yang menggema di seluruh sudut ruangan.

Fajrul Amienurrahman Mahmud

LAINNYA