NALARMEDIA.COM – Minat masyarakat Jawa Tengah untuk berinvestasi di pasar modal terus meningkat. PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) mencatat jumlah investor pasar modal di Jawa Tengah telah mencapai 3,19 juta investor hingga Juni 2026, menjadikan provinsi ini sebagai daerah dengan jumlah investor terbesar keempat di Indonesia.
Dari seluruh kabupaten dan kota di Jawa Tengah, Kota Semarang menjadi wilayah dengan jumlah investor terbanyak, yakni mencapai 198.180 investor.
Kepala Unit Edukasi Layanan Jasa Investor KSEI, Abdul Azis Albakkar, mengatakan pertumbuhan investor di Jawa Tengah masih didominasi kelompok usia produktif.
“Investor berusia di bawah 30 tahun dan kelompok usia 31 hingga 40 tahun masih menjadi mayoritas dengan porsi mencapai 82,97 persen dari total investor di Jawa Tengah,” ujarnya dalam kegiatan edukasi pasar modal di Semarang, Selasa (21/7/2026).
Meski jumlah investornya didominasi generasi muda, nilai aset terbesar justru dimiliki kelompok investor berusia di atas 60 tahun.
Data KSEI menunjukkan kelompok usia di bawah 30 tahun memiliki aset sekitar Rp8,31 triliun, sedangkan investor berusia 31–40 tahun menguasai aset Rp15,79 triliun.
Sementara itu, kelompok usia 60 tahun ke atas yang hanya mencakup sekitar 1,97 persen dari total investor justru mengelola aset terbesar, yakni mencapai Rp29,46 triliun.
Dilihat dari jenis pekerjaan, mayoritas investor di Jawa Tengah berasal dari kalangan karyawan, baik pegawai swasta, aparatur sipil negara, guru, anggota TNI, Polri maupun pensiunan. Kelompok profesi tersebut mencapai 48,95 persen dari total investor dengan nilai aset sekitar Rp26,31 triliun.
Sementara berdasarkan tingkat pendapatan, sebagian besar investor berasal dari kelompok masyarakat dengan penghasilan hingga Rp100 juta per tahun, atau sekitar 53,31 persen dari total investor.
Secara nasional, jumlah investor pasar modal Indonesia hingga akhir Juni 2026 telah mencapai 28,96 juta investor, meliputi investor saham, reksa dana, surat utang, Surat Berharga Negara (SBN), hingga instrumen Bank Indonesia.
Jumlah tersebut meningkat sekitar 42,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, menunjukkan tren positif pertumbuhan literasi dan inklusi investasi di Indonesia.
Seiring meningkatnya jumlah investor, KSEI terus memperkuat layanan digital melalui pengembangan berbagai sistem administrasi pasar modal.
Salah satunya adalah The Central Depository and Book-Entry Settlement System (C-BEST) yang digunakan untuk pengelolaan efek, pembukaan Sub Rekening Efek (SRE), distribusi aksi korporasi, hingga penyelesaian transaksi.
Hingga Juni 2026, nilai aset yang tercatat melalui sistem C-BEST mencapai sekitar Rp7.495 triliun.
Selain itu, KSEI juga mengembangkan Sistem Pengelolaan Investasi Terpadu (S-INVEST) yang kini diperluas melalui S-MULTIVEST untuk mendukung administrasi berbagai produk investasi, termasuk pengelolaan Tabungan Perumahan Rakyat (Tapera).
Per Juni 2026, sistem tersebut mencatat Asset Under Management (AUM) sebesar Rp983 triliun dengan 2.496 produk investasi yang terdaftar.(**)