HUT ke-81 Jateng, Program Speling Hadir, Warga Desa Tak Lagi Pusing Jarak ke Rumah Sakit

waktu baca 6 menit
Jumat, 21 Agu 2026 15:33 3 Fajrul Amienurrahman Mahmud

NALARMEDIA.COM – Menempuh perjalanan menuju rumah sakit bukanlah perkara sepele bagi Retno. Perempuan asal Desa Kapulogo, Kecamatan Kepil, Kabupaten Wonosobo ini harus menembus rute sejauh 36 kilometer hanya untuk mencapai fasilitas kesehatan terdekat.

Sebagai warga yang bermukim di ujung timur Wonosobo yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Magelang, Retno menghadapi tantangan besar dalam mengakses layanan kesehatan. Kesulitan ini semakin terasa ketika ia dan sang anak sangat membutuhkan penanganan khusus dari dokter spesialis.

Bagi warga yang memiliki kendaraan pribadi, rute puluhan kilometer mungkin masih masuk akal. Namun bagi Retno, keterbatasan alat transportasi praktis mengubur harapannya untuk mengakses layanan medis tingkat lanjut.

Sang anak mengidap penyakit gangguan pembekuan darah di otak dan mewajibkan pemeriksaan rutin ke dokter spesialis saraf. Karena himpitan ekonomi dan ketiadaan kendaraan, Retno terpaksa menghentikan pengobatan anaknya di tengah jalan.

Titik terang akhirnya datang saat Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah menggelar Program Dokter Spesialis Keliling (Speling) di balai desa setempat pada Kamis (30/7/2026). Melalui inisiatif ini, pemerintah memboyong langsung para dokter spesialis dari berbagai bidang untuk memberikan layanan pemeriksaan, konsultasi, hingga pengobatan secara cuma-cuma.

Retno tidak menyia-nyiakan kesempatan emas tersebut. Bukan hanya ia yang bisa memeriksakan kesehatannya, sang anak pun akhirnya kembali mendapatkan penanganan dokter spesialis tanpa perlu bersusah payah pergi ke rumah sakit.

“Saya terbantu. Kendala kami memang tidak punya kendaraan, jadi sempat berhenti berobat. Dari sini kami bisa berobat lagi,” tuturnya pada Kamis, 30 Juli 2026.

Retno hanyalah satu dari ratusan ribu warga yang telah merasakan langsung dampak positif program ini. Sejak Speling mulai menyapa kawasan perdesaan, berbagai cerita serupa terus bermunculan dari seluruh pelosok Jawa Tengah.

Di Desa Pidodo Kulon, Kecamatan Patebon, Kabupaten Kendal, seorang pria bernama Jamsari berjalan tertatih mendatangi lokasi pelayanan Speling. Ia telah berjuang melawan penyakit diabetes selama 15 tahun terakhir. Jamsari mengaku sempat mengabaikan kontrol rutin karena biaya berobat yang sangat mencekik leher.

“Sekali kontrol sekitar Rp450 ribu. Saya kira sudah sembuh, ternyata kaki sampai luka karena efek gula,” ujarnya. Kehadiran tim Speling akhirnya memberi Jamsari kesempatan untuk kembali berkonsultasi dengan dokter spesialis tanpa harus merogoh kocek sepeser pun.

Kisah inspiratif lainnya mengalir dari Kabupaten Banyumas. Jika Retno dan Jamsari memanfaatkan layanan Speling untuk menyembuhkan penyakit fisik, siswi SMA Negeri 2 Purwokerto bernama Feni Anindya (16) justru mencari pertolongan dari layanan kesehatan jiwa.

Feni saat itu tengah didera kebingungan akut dalam menentukan arah pendidikan pasca-lulus sekolah. Melalui sesi konsultasi bersama psikolog program Speling, ia mendapatkan ruang diskusi yang nyaman untuk memetakan pilihan jurusan kuliah serta merancang masa depannya.

“Alhamdulillah setelah berkonsultasi jadi lebih ada gambaran. Saya berharap program ini bisa dilaksanakan lagi,” katanya.

Tiga kisah dari tiga daerah berbeda tersebut membuktikan satu hal: Program Dokter Spesialis Keliling sukses menjadi solusi universal bagi beragam problem kesehatan warga. Melalui strategi jemput bola ini, Gubernur Ahmad Luthfi dan Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen berhasil mendekatkan layanan medis kepada warga yang selama ini terbelenggu oleh jarak, biaya, dan minimnya akses.

Pemprov Jateng resmi menggulirkan Program Speling pada Maret 2025 sebagai jurus jitu menjawab tantangan pemerataan akses kesehatan. Meskipun pemerintah terus membangun jaringan puskesmas dan rumah sakit, fakta di lapangan menunjukkan masih banyak warga yang gagal menjangkau dokter spesialis akibat kendala geografis dan finansial.

Program Speling memfokuskan pelayanannya pada lima pilar utama, meliputi skrining Tuberkulosis (TBC), deteksi dini kanker serviks, layanan kesehatan mental, pemeriksaan ibu hamil, serta penanganan kesehatan balita guna mempercepat penurunan angka stunting.

Warga bisa mengakses seluruh fasilitas mewah ini secara gratis hanya dengan menunjukkan kartu identitas. Kehadiran layanan persis di balai desa membuat masyarakat sukses menghemat biaya transportasi yang biasanya sangat membebani.

Catatan pemerintah hingga 13 Agustus 2026 menunjukkan Program Speling telah beroperasi sebanyak 1.553 kali. Tim medis telah menyambangi 1.378 desa yang tersebar di 465 kecamatan pada 35 kabupaten/kota. Selama periode tersebut, sebanyak 128.109 orang warga telah menerima layanan kesehatan secara langsung.

Hebatnya, pemerintah tidak mengukur kesuksesan program ini sekadar dari jumlah desa atau kuantitas pasien semata. Keberhasilan sejati Speling terletak pada kemampuannya mendeteksi ribuan kasus penyakit lebih awal sehingga tim medis bisa segera mengambil tindakan penyelamatan.

Pada sektor kesehatan ibu dan anak, petugas telah memeriksa kehamilan (antenatal care) terhadap 15.848 ibu hamil. Dari total tersebut, tim memastikan 12.537 ibu dalam kondisi sehat, sementara 3.311 lainnya langsung masuk ke dalam daftar pantauan dan penanganan medis lebih lanjut.

Pemerintah juga menaruh atensi luar biasa pada pemberantasan TBC. Tim Speling sukses melakukan skrining terhadap 53.463 warga. Hasil pelacakan ini mengidentifikasi ribuan orang sebagai suspek TBC yang langsung pemerintah arahkan untuk menjalani pemeriksaan lanjutan menggunakan Tes Cepat Molekuler (TCM) dan uji Mantoux.

Lebih jauh, tim psikolog Speling juga telah memeriksa kesehatan mental 37.605 warga, di mana 1.358 orang di antaranya membutuhkan penanganan khusus. Sementara pada pilar deteksi kanker serviks, petugas berhasil memeriksa 5.915 perempuan dan segera merujuk 497 kasus untuk mendapat tindak lanjut medis.

Speling juga membuktikan ketangguhannya dalam berkolaborasi. Pemprov Jateng secara cerdas mengintegrasikan program lokal ini dengan inisiatif Cek Kesehatan Gratis (CKG) milik pemerintah pusat. Integrasi ini membuat masyarakat mampu menerima paket layanan kesehatan yang sangat komprehensif dalam satu waktu.

Buah dari sinergi ini sangat membanggakan. Sepanjang Januari hingga Juli 2026, Jawa Tengah sukses merebut takhta sebagai daerah dengan capaian CKG tertinggi di Indonesia. Pemerintah berhasil melayani 14.248.868 warga, atau menyumbang sekitar 37,4 persen dari total target nasional.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, Zulfachmi Wahab, menggaransi bahwa misi mulia Speling tidak akan berhenti sekadar pada proses pemeriksaan awal.

“Kami tidak akan berhenti pada deteksi dini, tetapi berlanjut untuk meningkatkan kesehatan masyarakat Jawa Tengah secara holistik,” ujarnya.

Zulfachmi memastikan jajarannya akan selalu menindaklanjuti setiap temuan penyakit di lapangan melalui sistem rujukan dan pendampingan ketat agar pasien benar-benar sembuh tuntas.

Menyambut Hari Jadi ke-81 Provinsi Jawa Tengah, kehadiran Speling sukses menjadi monumen hidup transformasi pelayanan publik di sektor kesehatan.

Bagi Gubernur Ahmad Luthfi, kesehatan warga bukanlah sekadar urusan rutinitas medis. Ia meyakini kesehatan merupakan fondasi utama untuk mencetak Sumber Daya Manusia (SDM) unggul sekaligus menjadi kunci ampuh meretas rantai kemiskinan. Oleh karena itu, ia mewajibkan pelayanan medis mendatangi warga desa, bukan sebaliknya.

“Jadi kita dorong tidak hanya pelayanan di rumah sakit tapi juga di desa. Masyarakat desa akan senang mereka dapat layanan kesehatan gratis, bisa periksa kesehatan ke dokter spesialis, anaknya yang stunting juga ditangani, termasuk kesehatan jiwa dan sebagainya,” tegas Luthfi.

Kini, Pemprov Jawa Tengah berambisi terus meluaskan sayap program ini. Menjelang akhir 2026, pemerintah mematok target untuk melayani 284 ribu warga di seluruh kabupaten dan kota. Target ini bukan ambisi angka kosong, melainkan garansi nyata dari negara agar semakin banyak warga desa yang bisa bertatap muka dengan dokter spesialis tanpa harus pusing memikirkan jarak tempuh dan biaya.

Fajrul Amienurrahman Mahmud

LAINNYA