Jelang Muktamar Ke-35 NU: Kritik Tajam dari Semarang Soroti Manuver Elit Pusat, Nama Gus Yusuf Chudlori Kian Menguat

waktu baca 4 menit
Sabtu, 22 Agu 2026 13:37 4 Fajrul Amienurrahman Mahmud

NALARMEDIA.COM – Suhu politik kurang dari sepekan menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Jombang kian mendidih. Menjelang perhelatan akbar tersebut, para elit di tingkat pusat tidak lagi bermain di bawah meja, melainkan secara terang-terangan mempertontonkan bermanuver politik untuk memperebutkan kursi kepemimpinan jam’iyah.

Merespons eskalasi tersebut, barisan kiai sepuh bersama sejumlah kader muda NU Jawa Tengah menggelar pertemuan terbatas di Hotel Gracia, Kota Semarang, pada Jumat (21/8/2026) malam. Forum ini secara berani melontarkan kritik tajam terhadap tingkah laku elit Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) saat ini, sekaligus menawarkan poros kepemimpinan alternatif untuk memimpin organisasi.

Pengasuh Pondok Pesantren Bareng, Jekulo, Kabupaten Kudus, KH Ahmad Badawi Basyir, menyampaikan keprihatinannya secara langsung dalam diskusi tersebut. Ia menilai kegaduhan menjelang Muktamar yang sedianya bergulir pada 27 hingga 31 Agustus 2026 ini justru bersumber dari pihak yang semestinya bertindak sebagai pengayom umat.

“Kondisi yang makin memanas ini justru disulut oleh elit pengurus PBNU saat ini yang harusnya bisa memberikan ruang dan suasana teduh,” ungkap Kiai Badawi.

Kiai Badawi secara khusus menyoroti manuver pertemuan para kiai sepuh yang berlangsung di kantor PBNU pada Kamis (20/8/2026) lalu. Ia sangat menyayangkan forum yang membawa nama kiai sepuh tersebut ternyata hanya menggunakan undangan berteken Ketua Umum PBNU, Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) secara personal. Parahnya lagi, penyelenggara sama sekali tidak mengundang dan tidak melibatkan pimpinan tertinggi organisasi, yakni Rais Aam KH Miftachul Akhyar.

“Itu jelas politisasi yang makin memperparah dan memperjelas konflik antar elit PBNU,” tandasnya. Ia kemudian menambahkan, “Pertemuan kemarin menunjukkan PBNU semakin nyata terbelah dua.”

Kegelisahan para ulama di Semarang ini sangat beralasan dan sejalan dengan analisis buletin NU Pos Edisi 8 yang terbit pada 21 Agustus 2026. Laporan tersebut membongkar relasi kuasa di balik pertemuan hari Kamis lalu. NU Pos menilai silaturahmi kiai sepuh di markas PBNU tersebut bukanlah agenda biasa, melainkan sebuah ajang konsolidasi dan unjuk kekuatan dari kubu Gus Yahya menjelang Muktamar.

Laporan itu menuding Kiai Ma’ruf Amin sebagai arsitek utama di balik manuver tersebut. Langkah politik ini kabarnya bertujuan melakukan perlawanan terhadap rumor kemunculan “paket Istana” yang menyeret nama Presiden Jokowi, sekaligus mengondisikan formasi Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA). Gus Yahya terlihat lihai meminjam karisma Kiai Ma’ruf demi mempertahankan kursi kekuasaannya.

Di sisi lain, publik Nahdliyin harus menyaksikan anomali organisasi yang sangat ganjil. Manuver yang Kiai Ma’ruf dan Gus Yahya komandoi tersebut terkesan menafikan dan menyingkirkan eksistensi Kiai Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam. Situasi ini mengamplifikasi kekhawatiran publik bahwa Muktamar Jombang hanya akan menjadi medan perang faksi politik berjangka panjang, yang bahkan kabarnya erat berkaitan dengan kalkulasi kepentingan Pemilu 2029 mendatang.

Buletin NU Pos turut menyegarkan ingatan warga NU pada sejarah kelam dua muktamar sebelumnya, yakni Muktamar ke-33 di Jombang dan Muktamar ke-34 di Lampung. Pada dua ajang tersebut, intervensi kekuasaan dan lobi politik tingkat tinggi selalu sukses menumbangkan tradisi musyawarah mufakat yang menjadi muruah dunia kepesantrenan.

Menyaksikan tubuh PBNU yang kian retak akibat perebutan relasi kuasa tersebut, KH Badawi Basyir mewanti-wanti para muktamirin (peserta Muktamar) dari jajaran pengurus wilayah dan cabang agar lebih jernih menentukan pilihan. Ia menegaskan bahwa memilih pemimpin NU harus murni berlandaskan niat mencari rida Allah, bukan sekadar mengekor pada kubu yang paling jago bermanuver.

Saat forum meminta rekomendasi sosok yang paling pantas menakhodai PBNU periode 2026-2031 di tengah krisis faksi ini, Kiai Badawi dengan mantap menyodorkan satu nama alternatif dari Jawa Tengah.

“Pastinya, semua calon baik menurut tim masing-masing. Namun, yang menurut saya insya Allah diridai oleh Allah, diridai para muassis (pendiri), dan sedikit daya tolaknya di tengah-tengah warga NU adalah Yusuf yang ada Chudlorinya,” pungkas beliau.

Pernyataan lugas tersebut merujuk pada sosok KH Muhammad Yusuf Chudlori atau Gus Yusuf, tokoh kharismatis yang saat ini mengasuh Pesantren API Tegalrejo, Magelang.

Di tengah memanasnya tarik-ulur kepentingan antara kubu yang merapat pada pusaran kekuasaan elit Jakarta, munculnya arus dukungan bagi Gus Yusuf dari akar rumput Jawa Tengah ini laksana sebuah oase. Sosok Gus Yusuf berpotensi menawarkan jalan tengah untuk merajut kembali rekonsiliasi demi menjaga keutuhan jam’iyah pada Muktamar di Jombang nanti.

Fajrul Amienurrahman Mahmud

LAINNYA