
NALARMEDIA.COM — Pesan tentang kerukunan dan toleransi antarumat beragama disampaikan Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng saat mengunjungi tiga rumah ibadah dalam satu hari, Selasa (25/8).
Agustina menyambangi Gereja St. Theresia Paroki Bongsari, GKJ Semarang Timur, hingga Masjid Agung Semarang atau Masjid Kauman. Dalam setiap kunjungannya, ia mengajak masyarakat menjaga kebersamaan dan menjadikan keberagaman sebagai kekuatan Kota Semarang.
Kunjungan pertama dilakukan di Gereja St. Theresia Paroki Bongsari. Agustina hadir dalam kegiatan Funwalk yang digelar untuk memperingati HUT ke-58 paroki tersebut.
Di hadapan umat dan warga yang hadir, Agustina menyampaikan apresiasi atas suasana kebersamaan yang terus tumbuh di Kota Semarang. Menurutnya, kehidupan masyarakat yang saling menghormati menjadi salah satu kekuatan penting dalam menjaga kedamaian kota.
“Hari ini ada kegiatan Katolik, Kristen, kemudian nanti peringatan Maulid Nabi di Kauman. Inilah indahnya Kota Semarang, sebuah kebersamaan yang memberikan keberkahan dan kedamaian luar biasa,” ujar Agustina.
Ia menilai dukungan lintas agama dalam berbagai kegiatan keagamaan merupakan modal sosial yang harus terus dipertahankan.
Agustina menyebut masyarakat Semarang selama ini terbiasa saling memberikan dukungan ketika umat agama lain merayakan hari besar keagamaan, baik Natal, Paskah, Idulfitri, Maulid Nabi, maupun kegiatan keagamaan lainnya.
“Dukungan pemerintah kota maupun antarumat beragama kita lakukan secara tulus dan ikhlas. Dukungan dari umat agama lain saat perayaan Natal, Paskah, maupun agenda besar keagamaan lainnya menunjukkan betapa kuatnya rasa persaudaraan di kota ini,” tegasnya.
Safari keagamaan Agustina berlanjut ke GKJ Semarang Timur. Di gereja tersebut, ia menghadiri Festival Paduan Suara Gerejawi Klasis GKJ Semarang Timur.
Agustina kemudian mengibaratkan kehidupan masyarakat Kota Semarang seperti sebuah paduan suara. Menurutnya, keindahan sebuah paduan suara justru lahir dari beragam karakter suara yang mampu menyatu dalam harmoni.
“Saya melihat kekuatan paduan suara ada pada harmoni. Setiap karakter suara saling melengkapi hingga tercipta alunan yang indah. Begitu pula Kota Semarang, keberagaman yang dirawat dengan inklusivitas akan melahirkan harmoni kota yang kuat,” tuturnya.
Menurut Agustina, perbedaan bukan sesuatu yang harus dipertentangkan. Sebaliknya, keberagaman perlu dirawat melalui sikap saling menghormati, membuka ruang dialog, dan membangun kebersamaan.

Rangkaian kunjungan kemudian berlanjut ke Masjid Agung Semarang. Di Serambi Utama Masjid Kauman, Agustina menghadiri Pengajian Akbar Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H yang diselenggarakan Yayasan Badan Pengelola Masjid Agung Semarang.
Dalam kesempatan tersebut, Agustina mengajak masyarakat menjadikan peringatan Maulid Nabi sebagai momentum untuk meneladani akhlak Rasulullah, khususnya dalam membangun hubungan dengan sesama.
“Maulid Nabi mengingatkan kita pada sosok Rasulullah yang membawa ajaran tentang akhlak, kasih sayang, dan kejujuran. Kecintaan kepada Nabi Muhammad perlu terlihat dalam cara kita memperlakukan orang lain, dengan keramahan dan kesediaan membuka ruang bagi sesama,” katanya.
Tak hanya berbicara mengenai kerukunan, Agustina juga mengajak jemaah mendoakan masyarakat yang sedang menghadapi musibah, termasuk korban gempa bumi di Nusa Tenggara Timur dan bencana kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan.
Ia menyampaikan bahwa kepedulian masyarakat Semarang terhadap korban bencana diwujudkan melalui gerakan “Kota Semarang Peduli”.
Gerakan tersebut telah menghimpun donasi sebesar Rp156 juta yang kemudian disalurkan untuk membantu korban gempa bumi di NTT.
“Melalui ‘Kota Semarang Peduli’, dalam waktu singkat kita bergerak bersama dan telah menyalurkan donasi Rp156 juta untuk saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur,” ungkapnya.
Dalam kesempatan tersebut, Agustina juga menyampaikan perkembangan persiapan Kota Semarang sebagai tuan rumah MTQ Nasional XXXI.
Menurutnya, persiapan penyelenggaraan ajang tersebut telah mencapai sekitar 80 persen. Kota Semarang nantinya akan menyambut sekitar 8.000 hingga 11.000 kafilah dari berbagai daerah di Indonesia.
Agustina mengajak seluruh masyarakat untuk ikut menyukseskan penyelenggaraan MTQ Nasional dengan memberikan sambutan yang hangat kepada para peserta dan tamu dari seluruh Indonesia.
“Kita ingin para tamu yang datang ke Kota Semarang merasakan keramahan masyarakat sekaligus melihat Semarang sebagai kota yang aman, nyaman, sejuk, dan toleran,” ujarnya.
Rangkaian kunjungan ke tiga rumah ibadah tersebut sekaligus memperlihatkan pesan yang ingin terus dibangun Pemerintah Kota Semarang: keberagaman bukan sekadar realitas kehidupan masyarakat, tetapi modal penting untuk menciptakan kota yang harmonis, inklusif, dan damai.(**)