14 Daerah Jateng Berstatus Awas Kekeringan, Wagub Taj Yasin Dorong Modifikasi Cuaca

waktu baca 2 menit
Rabu, 26 Agu 2026 16:40 17 Fajrul Amienurrahman Mahmud

NALARMEDIA.COM – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Pemprov Jateng) terus mematangkan berbagai langkah strategis untuk menghadapi ancaman bencana kekeringan. Berdasarkan perkiraan cuaca, kemarau panjang ini akan terus melanda wilayah Jawa Tengah hingga akhir September 2026 mendatang.

Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, mendorong penerapan teknologi modifikasi cuaca sebagai salah satu solusi utama. Ia meyakini intervensi teknologi ini mampu menekan dampak buruk dari kekeringan yang berkepanjangan.

“Dengan harapan ini bisa mengurangi kekeringan panjang di tahun ini,” kata Taj Yasin, seusai memberikan mauidhah hasanah pada acara Dzikro Maulidurrosul Muhammad SAW di Ponpes Ar Roudloh Babadan, Limpung, Batang, Selasa (25/8/2026).

Taj Yasin menyampaikan gagasan tersebut guna merespons peringatan resmi dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Jawa Tengah. Sebelumnya, BMKG telah menetapkan 14 daerah di Jawa Tengah dalam status Awas kekeringan meteorologis untuk periode 21 hingga 31 Agustus 2026.

Sebanyak 14 daerah rawan tersebut meliputi Kabupaten Demak, Kudus, Grobogan, Jepara, Pati, Rembang, Blora, Sragen, Karanganyar, Purworejo, Klaten, Magelang, Cilacap, hingga Wonogiri.

BMKG juga memprakirakan seluruh wilayah Jawa Tengah masih memiliki peluang tinggi mengalami curah hujan dengan intensitas sangat rendah hingga penghujung September. Lembaga tersebut bahkan memetakan periode awal September sebagai fase puncak paling kering pada tahun ini.

Memanfaatkan momentum krisis air ini, Taj Yasin mengajak seluruh pihak untuk membenahi sistem pengelolaan tata air dalam jangka panjang. Ia meminta masyarakat dan pengembang memastikan setiap proyek pembangunan infrastruktur tetap menyisakan ruang resapan air yang memadai ke dalam tanah.

Tokoh yang akrab dengan sapaan Gus Yasin ini secara khusus menyoroti tren pembangunan kawasan permukiman yang terlalu mendominasi penggunaan material beton. Praktik ini secara langsung sukses memangkas ketersediaan area resapan alami.

“Ini peringatan buat kita, bahwa ke depan kita harus membenahi infrastruktur tanah kita. Pori-porinya harus diperhatikan,” ujarnya.

Gus Yasin mengimbau para kontraktor perumahan agar tidak menutup seluruh permukaan tanah dengan lapisan semen dan beton. Ia menekankan bahwa masyarakat perlu memperbanyak pembuatan sumur biopori dan sumur resapan di sekitar pekarangan rumah mereka masing-masing.

Sementara itu, demi menangani dampak kekeringan yang sudah terjadi di depan mata, Pemprov Jateng menginstruksikan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) untuk bergerak cepat. Tim BPBD telah menyiagakan puluhan armada truk tangki guna mendistribusikan pasokan air bersih langsung ke pemukiman masyarakat.

Wagub menegaskan, Pemprov Jateng terus merajut koordinasi ketat bersama jajaran pemerintah kabupaten dan kota setempat. Langkah sinergis ini pemerintah ambil demi mengamankan ketersediaan pasokan air minum yang layak konsumsi bagi warga yang bermukim di daerah terdampak kekeringan terparah.

Fajrul Amienurrahman Mahmud

LAINNYA