Pemprov Jateng Sukses Tarik Potensi Investasi Masuk Hingga Rp19,07 Triliun dari Ajang CJIBF 2026

waktu baca 4 menit
Kamis, 27 Agu 2026 21:00 24 Fajrul Amienurrahman Mahmud

NALARMEDIA.COM – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah sukses mencatatkan potensi investasi raksasa senilai Rp19,07 triliun melalui ajang Central Java Investment Business Forum (CJIBF) 2026 di Jakarta. Angka fantastis ini memiliki peluang besar untuk terus membengkak menyusul ramainya sesi pertemuan bisnis tatap muka (one-on-one meeting) antara para pelaku usaha lokal dan calon investor di Hotel Bidakara Jakarta, Kamis (27/8/2026).

Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi Jawa Tengah, Sakina Rosellasari, memaparkan alasan instansinya memboyong acara ini ke ibu kota. Ia sengaja menggelar CJIBF di Jakarta demi merayu dan mendekatkan berbagai peluang investasi strategis Jawa Tengah langsung ke hadapan para pemodal besar.

“Kegiatan CJIBF diikuti sekitar 400 peserta yang terdiri dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, pengelola kawasan industri, asosiasi, BUMD, BUMN, perbankan, serta calon investor dari dalam dan luar negeri,” ujar sakina.

Ajang promosi investasi ini merupakan edisi kedua yang pemerintah gelar pada tahun ini, menyusul kesuksesan acara serupa di Kota Semarang pada Mei 2026 lalu. Panitia membuka forum kali ini dengan menjembatani 74 pertemuan intensif yang melibatkan 36 pelaku usaha. Pemprov Jateng berjanji akan langsung menindaklanjuti hasil pertemuan tersebut dengan menerjunkan tim pendampingan investasi.

Manuver bisnis ini membuahkan hasil positif lewat lahirnya sejumlah komitmen kerja sama penanaman modal. Para pihak menyepakati penandatanganan dokumen Letter of Intent (LoI) untuk skema Penanaman Modal Asing (PMA) maupun Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN).

Deretan komitmen segar tersebut mencakup rencana suntikan dana dari PT Hyrecmas Garam Nusantara senilai Rp681,84 miliar, PT Hailex Technology Indonesia sebesar Rp175 miliar, dan PT Cipta Kreasi Wisata senilai Rp200 miliar. Sementara itu, PT Fayyad Industri Pangan Halal Terhubung tampil mencolok dengan rencana investasi raksasa mencapai Rp8,75 triliun.

Selain komitmen korporasi tunggal, pemerintah juga menyepakati kerja sama pengembangan infrastruktur Waste to Energy bersama PT Energy International yang akan melibatkan tujuh wilayah kabupaten/kota di Jawa Tengah. Investor asal China, PT Yosun Tire and Rubber Indonesia, turut memantapkan komitmen investasi mereka senilai Rp4 triliun untuk membangun fasilitas manufaktur di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Industropolis Batang.

Perwakilan British Chamber, Danish Chamber of Commerce, sekaligus Consul Asia, Ian Betts, memuji besarnya daya tarik Provinsi Jawa Tengah. Ia menilai wilayah ini sangat potensial untuk pengembangan sektor investasi hijau, kawasan ekowisata, hingga kawasan industri terpadu. Menurut Ian, konsep pembangunan berkelanjutan ini sangat sejalan dengan tuntutan industri global masa depan.

“Saya melihat ada ketertarikan besar terhadap sektor hijau dan berkelanjutan, serta ekowisata. Ini merupakan hal baru dan sangat menarik, sehingga investor asing mungkin akan tertarik dengan peluang tersebut,” kata Ian.

Ian menambahkan, ketersediaan kawasan industri dan kawasan ekonomi khusus memberikan jaminan kepastian berbisnis yang sangat investor asing butuhkan. Mereka bisa langsung menikmati ekosistem usaha yang matang, fasilitas lengkap, hingga deretan insentif pajak.

“Saya tertarik dengan Batang dan Kendal karena keduanya terhubung dengan kawasan ekonomi khusus dan kawasan industri. Bagi saya, kawasan seperti itu lebih mudah dipromosikan kepada investor asing,” ujarnya.

Menyambut antusiasme para investor, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menegaskan bahwa ajang CJIBF ini merupakan ujung tombak pemerintah daerah untuk memperkuat iklim usaha sekaligus memacu roda ekonomi.

“Tugas kami adalah mempermudah izin, menyiapkan lahan, menjaga keamanan, serta menjamin kepastian agar pertumbuhan ekonomi dan bisnis berkembang di Jawa Tengah,” ujar Luthfi.

Luthfi sangat menyadari bahwa setiap kabupaten dan kota di wilayahnya memiliki karakter dan keunggulan spesifik. Karena itu, ia merancang strategi tata ruang agar aliran modal tidak hanya menumpuk di satu pusat ekonomi. Pemerintah ingin menciptakan episentrum pertumbuhan baru yang merata di berbagai pelosok daerah.

Tidak hanya membentangkan karpet merah bagi pemodal kakap, Pemprov Jawa Tengah juga memaksa industri besar agar memberikan ruang bagi pelaku usaha lokal. Luthfi mencatat Jawa Tengah memiliki pasukan tangguh berupa 4,2 juta UMKM berskala mikro yang harus pemerintah dorong agar bisa menyusup ke dalam rantai pasok industri global.

“Yang dibutuhkan bukan hanya permodalan dan pemasaran, tetapi bagaimana usaha mikro bisa naik kelas menjadi kecil atau menengah,” katanya.

Sejalan dengan visi daerah tersebut, Deputi Bidang Perencanaan Penanaman Modal Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Ichsan Zulkarnaen, memastikan arah kebijakan investasi nasional kelak akan semakin fokus mengejar sektor bernilai tambah tinggi. Ia mengakui Jawa Tengah memiliki daya pikat investasi yang sangat superior berkat dukungan ekosistem kawasan industri dan KEK yang sangat mapan.

“Jawa Tengah menjadi salah satu pendorong investasi karena memiliki dua kawasan ekonomi khusus dan tujuh kawasan industri, yang beberapa di antaranya sudah memiliki fasilitas KLIK (Kemudahan Investasi Langsung Konstruksi),” katanya.

Fajrul Amienurrahman Mahmud

LAINNYA