Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Dardak (ANTARA)NALARMEDIA.COM – Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalitengah, Kecamatan Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo, Rafli Ridho, akhirnya angkat bicara. Ia menyampaikan permohonan maaf dan penyesalan mendalam secara terbuka atas musibah keracunan massal yang menimpa ratusan pelajar dan santri Pondok Pesantren Manbaul Hikam.
“Mohon maaf ya, saya menyesal,” kata Rafli, kepada wartawan, Rabu (2/9/2026).
Rafli menjelaskan kronologi penyiapan hidangan Makan Bergizi Gratis (MBG) tersebut. Tim dapur mulai memasak menu yang berisi nasi putih, telur orak-arik, tempe bumbu bali, tumis buncis baby corn, dan buah apel sejak pukul 05.30 WIB. Mereka baru menyalurkan paket makanan tersebut ke sejumlah sekolah sekitar pukul 11.00 WIB.
Rafli mengklaim pihaknya sudah menerapkan Standar Operasional Prosedur (SOP) pengujian organoleptik atau uji cita rasa. Tim dapur dan penanggung jawab (PIC) masing-masing sekolah telah mencicipi menu tersebut sebelum membagikannya kepada para siswa.
“Di situ kan ada organoleptik. Jadi setiap ke sekolahan itu ada uji yang nantinya itu dicicipi oleh PIC pihak sekolah. Nah, setelah saya tanya, katanya aman, enggak ada masalah dimakanan itu. Tapi kenapa kok keracunan, lah itu yang saya tidak tahu,” ujarnya.
Wakil Gubernur Jawa Timur sekaligus Ketua Satgas MBG Jatim, Emil Elestianto Dardak, turut merespons insiden ini. Emil membenarkan keabsahan fasilitas dapur tersebut. Ia menyebut SPPG Kalitengah sejatinya sudah teruji secara administratif. Dapur umum ini telah mengantongi Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS), sertifikasi penjamah makanan untuk para pekerja, hingga jaminan sertifikasi halal.
“Sebenarnya SPPG ini sudah memperoleh SLHS. Catatan-catatan asesmen juga menunjukkan sarana prasarananya memadai. Tenaga-tenaganya juga banyak yang sudah mengikuti sertifikasi penjamah makanan. Sertifikasi halal pun juga sudah diperoleh,” terang Emil.
Meskipun demikian, Emil menegaskan bahwa kelengkapan sertifikat administratif tidak serta-merta menutup celah potensi kontaminasi di lapangan. Ia menyebut SLHS hanya menilai kelayakan sistem dan sarana prasarana.
“Tetapi tetap saja dengan sarpras dan sistem, masih ada ruang kalau misalnya katakanlah bahan makanannya dari awalnya, atau timing pelaksanaan menyimpang dari SOP yang diverifikasi, itu bisa saja menyebabkan masalah,” jelas Emil Dardak.
Lebih lanjut, Emil memaparkan proses penelusuran epidemiologi yang saat ini masih berjalan. Berkaca pada pola pengujian kasus serupa sebelumnya, kontaminasi biasanya memicu pertumbuhan bakteri pada makanan. Fakta menarik muncul dari temuan sementara di lapangan, di mana santri yang tidak memakan olahan sayur ternyata ikut mengalami gejala keracunan. Oleh karena itu, Dinas Kesehatan dan Kepolisian kini memperluas fokus pemeriksaan sampel laboratorium ke seluruh komponen bahan makanan yang tersaji hari itu.
Merespons situasi darurat ini, Badan Gizi Nasional (BGN) Regional Jawa Timur mengambil langkah tegas. Mereka menghentikan total seluruh aktivitas operasional dapur yang setiap harinya memproduksi sekitar 2.800 porsi paket MBG tersebut.
Wakil Koordinator BGN Regional Jawa Timur, Teguh Bayu Wibowo, memastikan penangguhan (suspend) operasional ini berlaku selama proses menunggu hasil pengujian laboratorium resmi.
“Kami juga tadi sudah mendapatkan informasi langsung dan kami bergerak ke SPPG. Untuk saat ini SPPG kita berhenti operasional. Selanjutnya hasil lab dan lain-lain kita menunggu untuk satu minggu ke depan untuk kunci hasil lab. Sampai hasil evaluasi keluar, pusat akan menimbang apakah di-suspend sementara atau suspend permanen,” tutur Teguh Bayu Wibowo saat meninjau kondisi korban di RSUD Notopuro Sidoarjo.
Pemerintah Provinsi Jawa Timur bersama Pemerintah Kabupaten Sidoarjo langsung mengeluarkan imbauan resmi. Mereka meminta seluruh orang tua dan siswa yang merasakan keluhan gangguan kesehatan setelah mengonsumsi menu MBG dari SPPG Kalitengah untuk segera mendatangi fasilitas kesehatan terdekat. Pemerintah menjamin dan menanggung seluruh biaya perawatan pasien agar tim medis dapat memberikan penanganan secara tuntas tanpa meninggalkan satu korban pun.
Pembaruan data terakhir menunjukkan skala dampak yang cukup memprihatinkan. Dari total 19 lembaga pendidikan yang menerima pasokan MBG dari SPPG Kalitengah, sebanyak 566 pelajar terindikasi mengalami gejala keracunan. Parahnya, petugas medis harus memberikan penanganan intensif kepada 431 korban yang kini tersebar di delapan rumah sakit berbeda. Kasus keracunan massal ini tidak hanya menimpa santri pesantren, tetapi juga meluas hingga menyasar para siswa di SDN Kalitengah 1 dan SDN Kalitengah 2.