Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng jadi pembicara di Semarang Resilience Forum 2026.NALARMEDIA.COM – Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang terus mematangkan kesiapan wilayahnya untuk menghadapi ancaman krisis masa depan, mulai dari banjir, banjir rob, hingga lonjakan volume sampah. Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, menantang seluruh elemen kota untuk membangun sistem tata kelola yang responsif, peka terhadap risiko, dan melibatkan partisipasi aktif masyarakat menuju visi Semarang Emas 2045.
Agustina menegaskan visi strategis tersebut saat tampil sebagai pembicara kunci (keynote speaker) dalam ajang Semarang Resilience Forum 2026. Forum diskusi bertajuk “Semarang 2045 Kota Masa Depan yang Tangguh dan Berkelanjutan” ini berlangsung di Fakultas Teknik Universitas Diponegoro (Undip), Senin (31/8/2026).
“Kota yang tangguh bukanlah kota yang tidak pernah diterpa gelombang, melainkan kota yang tahu cara membaca arah angin dan menyiapkan dirinya untuk tetap berdiri tegak,” tegasnya.
Menyandang status sebagai kawasan pesisir, Kota Semarang memang menanggung beban dinamika tata ruang perkotaan yang sangat kompleks. Pemerintah daerah harus memutar otak menekan laju banjir dan genangan rob, sekaligus menjinakkan produksi sampah harian warga yang kini menyentuh angka 1.200 ton per hari melalui skema penanganan terintegrasi.
Di hadapan para akademisi, Agustina memamerkan inovasi teknologi andalan Pemkot Semarang untuk menjawab deretan tantangan tersebut. Ia meluncurkan kembali platform AISSA (AI Solusi Sampah Semarang) guna memantau kondisi Tempat Penampungan Sementara (TPS) secara real-time. Selain itu, ia juga memperkenalkan inovasi Flood Eye yang berfungsi sebagai radar deteksi dini ancaman banjir dan rob.
Untuk menjinakkan laju tumpukan sampah, Pemkot Semarang secara agresif menggandeng jajaran TNI dan kalangan perguruan tinggi. Mereka merumuskan beragam metode pengolahan mutakhir, seperti teknologi pirolisis yang mampu menyulap sampah menjadi bahan bakar setara solar, penggunaan biodekomposer, hingga mematangkan skema Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PSEL).
“Ada dukungan dari KSAD untuk mengolah sekitar 3,5 juta ton tumpukan sampah di sana melalui metode pirolisis. Diolahpabrik nanti hasilnya menjadi bahan bakar,” ungkapnya.
Kendati mengantongi berbagai teknologi mutakhir, Wali Kota mengingatkan bahwa kecanggihan infrastruktur akan berujung sia-sia apabila warga tidak segera mengubah kebiasaan buruk mereka. Ia menyoroti temuan petugas yang kerap mendapati tumpukan ban bekas hingga aneka perabot rumah tangga menyumbat sistem pompa air, sehingga melumpuhkan mesin pengendali banjir kota.
“Infrastruktur yang dibangun dengan baik tidak akan sustain tanpa perilaku masyarakat yang mendukung. Kita hanya akan terus-menerus menguras energi untuk menyelesaikan permasalahan yang diakibatkan oleh budaya yang tidak tertata dan tidak terkoneksi dengan sistem yang sedang dibangun,” ucapnya.
Oleh karena itu, Agustina menuntut pembangunan ketahanan kota harus berjalan beriringan dengan revolusi kesadaran warga serta tata kelola birokrasi. Ia mendesak para pemangku kepentingan untuk segera merumuskan sebuah grand design (rancangan induk) tata kota yang konsisten berjangka panjang. Langkah ini sangat krusial agar cetak biru penanganan banjir tidak bongkar-pasang setiap kali terjadi suksesi kepemimpinan.
“Saya kira itu problematika paling krusial dalam proses perencanaan kita selama ini, yaitu belum tersusunnya grand design yang mengikat jangka panjang,” pungkasnya.
Sebagai informasi, ajang Semarang Resilience Forum 2026 ini merupakan buah kolaborasi strategis antara Pemkot Semarang, Universitas Diponegoro, dan Katadata. Forum bergengsi ini sukses menyedot perhatian sekitar 150 peserta yang mewakili unsur akademisi, jajaran pemerintahan, pihak swasta, pegiat komunitas, hingga awak media.