Inovasi Pita Ukur UNDIP Bantu Peternak Keerom Papua Hitung Bobot Sapi

waktu baca 4 menit
Kamis, 3 Sep 2026 20:51 14 Fajrul Amienurrahman Mahmud

NALARMEDIA.COM – Sore itu, Mak Tri memulai rutinitas hariannya dengan menyusuri lahan untuk mengarit dan mengumpulkan rumput pakan ternak. Namun kali ini, Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 3 Universitas Diponegoro (UNDIP) turut menemani langkah peternak asal Kawasan Transmigrasi (KT) Senggi, Kabupaten Keerom, Papua tersebut. Momen kebersamaan di padang rumput ini membuka ruang diskusi dan obrolan hangat antara kalangan akademisi dan warga lokal.

Dari obrolan santai seusai mengarit, tim mengungkap sebuah metode baru yang belum pernah Mak Tri bayangkan sebelumnya. Mereka mengajarkan cara mengukur lingkar dada sapi untuk menaksir berat badan ternak secara presisi. Tim TEP 3 UNDIP di bawah komando Ir. Daud Samsudewa, S.Pt., M.Si., Ph.D., IPM, hadir membawa solusi praktis untuk memecahkan masalah ketiadaan fasilitas alat timbang ternak di pelosok Papua. Hanya dengan berbekal pita ukur atau meteran, para peternak kini bisa memperkirakan bobot sapi tanpa perlu merogoh kocek untuk membeli timbangan berat yang mahal.

Selama tiga pekan berinteraksi langsung di lapangan, TEP 3 UNDIP menemukan fakta bahwa peternak setempat selama ini sekadar mengandalkan insting dan perkiraan visual berbasis pengalaman. Padahal, kepastian data bobot ternak memiliki peran yang sangat vital bagi peternak. Angka tersebut membantu mereka memantau laju pertumbuhan sapi secara berkala sekaligus menentukan patokan harga jual yang paling ideal di pasaran.

Warga lokal langsung menunjukkan antusiasme tinggi saat mempraktikkan metode baru ini. Pengalaman perdana memegang pita ukur membuka wawasan baru bagi peternak setempat mengenai pentingnya transparansi hitungan saat menentukan harga jual.

“Oh iya? Saya baru tahu kalau sapi bisa diukur pakai meteran. Biasanya kami cuma kira-kira saja bobotnya untuk patokan harga jual,” ungkap Mak Tri saat didampingi TEP 3 UNDIP di lokasi SP 2 KT Senggi.

Mak Tri mengakui inovasi pita ukur ini sangat menolong peternak kecil seperti dirinya. Mereka kini memegang patokan ukuran yang pasti dan tidak perlu lagi sekadar menebak-nebak harga jual sapi di pasaran. Ia menilai pengetahuan sederhana ini sangat bermanfaat karena bisa peternak terapkan secara mandiri di kemudian hari.

Tim akademisi memperkenalkan metode terapan yang sangat cepat dan ramah bagi peternak awam. Peternak cukup melingkarkan pita ukur pada bagian dada sapi, tepat di belakang bahu ketika hewan dalam posisi berdiri. Setelah itu, mereka memasukkan angka hasil pengukuran lingkar dada ke dalam rumus perhitungan khusus untuk mengestimasi bobot badan ternak. Rumusnya yakni: bobot badan (kg) sama dengan (lingkar dada dalam cm ditambah 22) pangkat dua, lalu dibagi 100. Sebagai contoh, sapi yang memiliki lingkar dada 180 cm taksirannya memiliki bobot sekitar 408 kg.

Peternak di berbagai daerah lain di Indonesia sebenarnya sudah lama mempraktikkan cara ini sebagai solusi darurat saat timbangan fisik tidak tersedia. Kini, TEP 3 UNDIP berupaya menularkan kebiasaan baik tersebut kepada para peternak di Senggi sebagai rangkaian dari program pendampingan awal.

Sebagai langkah uji coba, TEP 3 UNDIP mengambil sampel pengukuran terhadap lima ekor sapi milik empat peternak berbeda di Senggi. Hasilnya, tim berhasil memetakan gambaran fisik ternak dewasa secara jelas. Sapi indukan rata-rata mencatatkan lingkar dada di atas 190 cm, sementara sapi jantan menempati rentang 180–200 cm. Data awal ini menjadi landasan penting bagi tim untuk mengukur kualitas dan kondisi riil ternak di wilayah tersebut.

Bagi anggota TEP 3 UNDIP, aktivitas pengukuran ini tidak sekadar menghasilkan deretan angka mati di atas kertas. Setiap sentimeter hitungan meteran mereka jadikan sebagai sarana penyaluran ilmu yang berdampak langsung ke masyarakat. Melalui interaksi ini, tim berhasil menyelami pola pemeliharaan, kendala harian, hingga kebutuhan paling mendesak yang warga butuhkan untuk memajukan usaha peternakan mereka.

Pendataan sederhana ini juga membantu tim memotret kondisi riil peternakan di Senggi secara komprehensif. Tim akan meracik kumpulan data ini sebagai bahan utama untuk merumuskan rekomendasi pengembangan sektor peternakan sapi yang selaras dengan kondisi masyarakat adat setempat. Edukasi pita ukur ini memberikan bekal manfaat jangka panjang. Peternak seperti Mak Tri tetap bisa menerapkan ilmu praktis tersebut secara mandiri walaupun masa penugasan tim ekspedisi telah usai.

Aksi inovatif TEP 3 UNDIP ini menjadi bukti langkah nyata akademisi dalam mentransformasi sistem peternakan konvensional di Papua menuju tata kelola manajemen yang terukur, adil, dan berkelanjutan. Inisiatif cerdas ini sekaligus menyokong pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Mereka mengejar target SDG 1 (Tanpa Kemiskinan) melalui perbaikan taraf ekonomi peternak, SDG 2 (Tanpa Kelaparan) dengan memperkuat ketahanan pangan lokal, serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) yang mewujud lewat kolaborasi apik antara perguruan tinggi dan masyarakat.

Fajrul Amienurrahman Mahmud

LAINNYA