Bawa Isu Pesisir Demak, Riset Disinformasi Iklim UNDIP Jadi Sorotan Dunia

waktu baca 2 menit
Rabu, 16 Sep 2026 01:23 12 Fajrul Amienurrahman Mahmud

NALARMEDIA.COM – Universitas Diponegoro (UNDIP) kembali sukses mengangkat isu lokal Jawa Tengah ke panggung akademik internasional. Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi, Kerja Sama, dan Komunikasi Publik UNDIP, Wijayanto, Ph.D., mewakili kampus untuk memaparkan riset mendalam terkait disinformasi perubahan iklim. Akademisi Departemen Politik dan Pemerintahan tersebut mengupas isu krusial ini dalam ajang konferensi European Association of Southeast Asian Studies (EUROSEAS) 2026 di Universidad Complutense de Madrid, Spanyol, pada 1 hingga 3 September 2026.

Di hadapan para cendekiawan global, Wijayanto mempresentasikan naskah akademik bertajuk “Beyond the Tide: Climate Disinformation, Religious Authority, and Coastal Vulnerability in Demak.” Riset komprehensif ini menyoroti tingkat kerentanan masyarakat pesisir Kabupaten Demak dalam menghadapi hantaman perubahan iklim. Melalui kajian tersebut, tim peneliti mengupas tuntas bagaimana arus informasi, penyebaran disinformasi, hingga peran otoritas keagamaan memengaruhi cara pandang warga merespons krisis lingkungan di sekitar mereka.

Wijayanto menekankan bahwa ancaman perubahan iklim masa kini telah melampaui batas fisik seperti banjir rob, abrasi, maupun kenaikan permukaan air laut. Ia mengingatkan publik bahwa peredaran informasi memegang peranan yang sama pentingnya dengan kerusakan ekologi itu sendiri.

“Krisis iklim bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga persoalan informasi,” ujar Wijayanto.

Proyek akademik lintas benua ini melibatkan peneliti ahli dari Universitas Amsterdam, yakni Jaron Harambam dan Lara De Poter. Sebelum terbang ke Spanyol, tim gabungan ini telah turun langsung melakukan observasi lapangan ke Kabupaten Demak pada pertengahan Agustus 2026 lalu. Mereka sengaja mengamati langsung realitas pesisir dan menggali pengalaman empiris warga yang bertahan hidup di tengah ancaman kerusakan alam.

Dari hasil temuan lapangan, Wijayanto meyakini pemuka agama memegang posisi paling strategis untuk membangun pemahaman dan membimbing respons warga terhadap perubahan iklim. Oleh karena itu, pemerintah dan pemangku kepentingan perlu merangkul institusi maupun tokoh keagamaan sebagai ujung tombak strategi komunikasi publik dan adaptasi krisis iklim.

Ia menegaskan bahwa dunia internasional perlu mendengar langsung pengalaman bertahan hidup masyarakat Demak. Meskipun dampaknya menghantam warga secara lokal, krisis iklim dan gelombang disinformasi sejatinya memiliki dimensi ancaman berskala global.

Partisipasi aktif di forum EUROSEAS ini sekaligus membuktikan komitmen kuat UNDIP dalam merancang riset yang berpijak pada persoalan nyata masyarakat akar rumput, namun tetap menonjolkan relevansi akademis di kancah dunia. Semangat pengabdian ini sejalan dengan visi kampus yang terangkum dalam semboyan “UNDIP Bermartabat, UNDIP Bermanfaat.”

Fajrul Amienurrahman Mahmud

LAINNYA