Atasi Dampak Kekeringan, Pemprov Jateng Salurkan Bantuan Air Bersih bagi Warga Lereng Merapi

waktu baca 4 menit
Rabu, 15 Jul 2026 13:43 36 Fajrul Amienurrahman Mahmud

NALARMEDIA.COM – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Tengah berkolaborasi dengan jajaran BPBD tingkat kabupaten dan kota untuk menangkal ancaman krisis air bersih. Sebagai bentuk aksi nyata, BPBD Kabupaten Klaten langsung turun gunung mendistribusikan pasokan air bersih bagi masyarakat yang bermukim di kawasan lereng Gunung Merapi, tepatnya di wilayah Kecamatan Kemalang.

Kepala BPBD Jateng, Bergas C Penanggungan, menjelaskan bahwa Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jateng telah mengambil langkah antisipasi sejak awal untuk menyambut datangnya musim kemarau. Pihaknya menggelar rapat koordinasi intensif dengan mengundang pemerintah kabupaten/kota serta berbagai instansi lintas sektoral.

“Data yang kami terima, dari daerah kabupaten/kota sudah menyiapkan secara totalitas itu sebanyak 123 juta liter,” kata Bergas di kantornya, Selasa (14/7/2026).

Bergas membeberkan catatan data BPBD Jateng yang menunjukkan bencana kekeringan ekstrem telah menghantam 15 kabupaten/kota. Krisis ini memukul 157 desa yang tersebar di 64 kecamatan. Melalui program penanganan krisis ini, pemerintah menargetkan penyaluran bantuan pasokan air untuk menyelamatkan 21.949 Kepala Keluarga (KK) atau setara dengan 61.456 jiwa.

Menjalankan instruksi langsung dari Gubernur Ahmad Luthfi, BPBD terus memantau ketat proses distribusi pasokan menuju daerah-daerah kering. Langkah taktis ini bertujuan menekan angka kerugian warga akibat kemarau panjang, seperti penyaluran bantuan yang berlangsung masif di Kabupaten Klaten pada Selasa (14/7/2026).

Bantuan dari BPBD Klaten ini sukses hadir sebagai pahlawan bagi ribuan warga yang kehabisan cadangan air. Masyarakat pesisir gunung tersebut sebelumnya hanya mengandalkan tampungan air hujan yang stoknya sudah mengering sejak bulan Mei lalu.

Hartoyo, seorang warga Desa Tlogowatu, Kecamatan Kemalang, menceritakan bahwa krisis air bersih sejatinya telah menjadi persoalan klasik yang turun-temurun di wilayahnya. Setiap rumah terbiasa menadah dan menampung air hujan menggunakan tandon besar. Sayangnya, persediaan air tersebut hanya sanggup membasahi tenggorokan warga selama dua bulan saat kemarau melanda, sehingga mereka terpaksa merogoh kocek untuk membeli pasokan.

“Harga satu tangki bisa Rp170 ribu sampai Rp220 ribu, tergantung lokasi. Bantuan BPBD sangat membantu, terutama bagi warga yang ekonominya kurang mampu. Kami sangat berterima kasih,” kata Hartoyo, ditemui saat penyaluran air bersih di desanya, Selasa (14/7/2026).

Ia menilai sistem penyaluran bantuan melalui bak penampungan umum terbukti sangat efektif membantu banyak keluarga memenuhi kebutuhan dasar harian. Meskipun demikian, warga yang memelihara hewan ternak tetap harus membeli tambahan air secara mandiri. Demi menghemat pemakaian, tak jarang warga rela menempuh perjalanan turun menuju kawasan bawah Kemalang untuk mandi dan mencuci pakaian karena lokasi tersebut masih menyimpan sumber mata air.

“Terima kasih dan Alhamdulillah sekali bantuan dari BPBD ini,” ujarnya.

Sarno Nanto Suwiryo, warga RT 5 RW 3, turut membagikan pengalaman pilu yang serupa. Keluarganya nyaris setiap tahun harus menelan pil pahit menghadapi ujian kekeringan ekstrem. Walaupun warga desa sudah berulang kali berupaya menggali sumur dalam, usaha keras mereka selalu berujung nihil tanpa setetes air pun.

“Kami hanya mengandalkan tandon air hujan. Kalau habis ya beli air atau menunggu bantuan pemerintah. Terima kasih karena BPBD selalu membantu kami saat kemarau,” ujarnya.

Merespons penderitaan warganya, Kepala Desa Tlogowatu, Suprat Widoyo, memastikan pemerintah desa telah menggandeng BPBD untuk menyiagakan bak penampungan air pada setiap lingkungan RT. Kebijakan tanggap darurat ini menjamin warga dari kelompok prasejahtera tetap mengamankan jatah minum mereka. Apabila stok air di dalam bak mulai menipis, aparat desa akan bergegas mengajukan permintaan pengiriman (dropping) kloter berikutnya kepada petugas BPBD.

“Selama ini memang masih banyak mengandalkan dari bantuan BPBD untuk dropping air bersih ke tempat warga, ataupun ke bak-bak penampungan umum milik desa yang kita sediakan di tiap RT,” jelasnya.

Pemerintah tidak sekadar melempar bantuan darurat, melainkan juga merancang solusi infrastruktur yang permanen. Saat ini, pemerintah tengah mengebut pembangunan jaringan pipa PDAM yang membentang panjang dari kawasan Tangkil menuju Desa Tlogowatu. Proyek vital ini menargetkan pemenuhan sekitar 60 hingga 70 persen kebutuhan pasokan air bagi penduduk yang puluhan tahun hidup terisolasi dari sumber mata air tanah.

Kepala Pelaksana BPBD Klaten, Syahruna, membenarkan bahwa wilayah administratifnya memang menyimpan potensi kerawanan bencana kekeringan yang sangat tinggi. Fenomena alam yang menyengsarakan ini telah menghantam empat desa di Kecamatan Kemalang sejak pertengahan Mei 2026, yakni Desa Tegalmulyo, Sidorejo, Tlogowatu, dan Kendalsari.

“Dropping air ini yaitu pertama atas usulan dari desa, kemudian kami menurunkan tim untuk cek kaitannya keberadaan air,” kata Syahruna, di kantornya.

BPBD Klaten mencatat timnya telah sukses mengirimkan 236 tangki atau setara dengan 1.180.000 liter air bersih bagi para korban kekeringan. Untuk mengamankan stabilitas pasokan sepanjang tahun ini, instansi tersebut menyiagakan sekitar 1.000 tangki air dan menggalang kolaborasi donasi dari berbagai program CSR perusahaan. Sinergi ini bertujuan menjaga napas warga selama masa krisis yang BMKG perkirakan akan memuncak hingga September, atau bahkan memanjang sampai Oktober mendatang.

“Musim kemarau tahun 2026 ini kemarau panjang, dan dampaknya bukan hanya untuk kekeringan saja termasuk karhutla (kebakaran hutan dan lahan), maka warga agar efisien dalam penggunaan air juga. Dari dampak yang panas sekali juga dari segi kesehatan juga, untuk diantisipasi,” pungkas Syahruna.

Fajrul Amienurrahman Mahmud

LAINNYA