Dukung Mandatori B50, Gubernur Ahmad Luthfi Mulai Terapkan Biodiesel pada Alat Pertanian di Jateng

waktu baca 3 menit
Jumat, 10 Jul 2026 15:49 40 Fajrul Amienurrahman Mahmud

NALARMEDIA.COM – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah memberikan dukungan penuh terhadap implementasi mandatori bahan bakar minyak (BBM) jenis B50 atau biodiesel. Presiden Prabowo Subianto meluncurkan program strategis ini secara resmi di Rest Area KM 57 Tol Jakarta-Cikampek, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, pada Kamis (9/7/2026).

Sebagai informasi, BBM jenis B50 memadukan 50 persen biodiesel berbasis minyak sawit (Fatty Acid Methyl Ester/FAME) dan 50 persen solar fosil. Inovasi energi ini meneruskan program mandatori biodiesel pemerintah yang sebelumnya telah sukses mengaplikasikan standar B20, B30, hingga B40.

Gubernur Jawa Tengah, Komjen Pol (P) Drs. Ahmad Luthfi, S.H., S.St.M.K., menyatakan bahwa wilayahnya saat ini masih memfokuskan penggunaan B50 pada sektor alat-alat pertanian. Ke depan, ia menargetkan sektor vital lain, seperti transportasi darat dan laut, agar segera mengadopsi bahan bakar ramah lingkungan ini.

“Sekarang itu, PT Kubota di Kota Semarang sudah menggunakan alat-alat pertanian dengan B50. Nanti ke depannya, tidak hanya ke alat-alat pertanian tetapi bisa juga kapal atau kendaraan yang menggunakan biosolar,” ucapnya.

Luthfi meyakini keberhasilan implementasi B50 pada sektor transportasi, industri, hingga mesin pertanian akan mendongkrak daya saing daerah. Selain itu, langkah ini secara langsung menyokong ketahanan energi nasional sekaligus mempercepat proses transisi menuju energi hijau.

Bagi Jawa Tengah, terobosan bioenergi ini semakin menyempurnakan portofolio program ramah lingkungan daerah. Sebelumnya, Pemprov Jateng telah agresif mengembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), menginstalasi pompa air tenaga surya, hingga merintis program Desa Mandiri Energi.

Melalui peluncuran akbar ini, Presiden Prabowo mendeklarasikan Indonesia sebagai negara pertama di dunia yang sukses menerapkan Mandatori B50. Kepala Negara memandang pencapaian prestisius ini bukan sekadar pamer kemajuan teknologi, melainkan wujud nyata keberhasilan negara memanfaatkan sumber daya alam demi menyejahterakan rakyat.

“Saya dorong terus dan menuntut tim untuk kemandirian energi. B40 saja tidak cukup, bahkan saat itu saya mendorong ke arah B100, tetapi katanya B50 saja kita sudah cukup untuk tidak impor solar dari luar negeri,” katanya.

Presiden menekankan bahwa keberhasilan program Mandatori B50 ini mustahil terwujud tanpa kolaborasi solid dari berbagai pihak. Ia mengapresiasi sinergi kementerian teknis, para pengusaha, hingga jerih payah petani sawit. Prabowo juga memberikan penghormatan kepada presiden-presiden pendahulunya yang telah meletakkan fondasi kebijakan energi nasional tersebut.

Menyambung pernyataan Presiden, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, membeberkan keuntungan finansial dari kebijakan ini. Ia menyebut Mandatori B50 mampu memangkas pengeluaran negara dan menghemat devisa hingga Rp170 triliun, sehingga Indonesia bisa menghentikan keran impor solar secara total.

Lebih jauh, Bahlil memastikan kebijakan energi ini akan menghadirkan kepastian pasar bagi para petani sawit. Peningkatan persentase biodiesel ini otomatis akan menggenjot angka serapan minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) domestik secara drastis.

Fajrul Amienurrahman Mahmud

LAINNYA