Grebeg Subali 2026 Kembali Hadir, Warga Krapyak Bersatu Rawat Memori dan Identitas Kampung

waktu baca 4 menit
Kamis, 10 Sep 2026 18:38 20 Fajrul Amienurrahman Mahmud

NALARMEDIA.COM – Warga Kelurahan Krapyak, Kecamatan Semarang Barat, Kota Semarang, bersiap kembali menggelar festival budaya Grebeg Subali 2026 dengan menyuguhkan gagasan yang lebih segar. Panitia tidak sekadar merancang festival ini sebagai panggung pertunjukan seni, melainkan turut mengajak masyarakat menggali ulang sejarah, cerita, serta memori kolektif yang membentuk identitas asli kampung mereka.

Mengusung tema utama “Ngeling, Ngilo, Nginguk”, panitia akan menggelar rangkaian acara Grebeg Subali 2026 selama tiga hari penuh, mulai Jumat hingga Minggu (25–27 September 2026). Pihak penyelenggara melibatkan partisipasi aktif seluruh elemen masyarakat, seniman, komunitas budaya, generasi muda, hingga tokoh dan sesepuh kampung.

Ketua Panitia Grebeg Subali 2026, Adam Adjie Kurniawan, memaparkan bahwa pihaknya merancang kegiatan ini sebagai ruang bersama untuk mengenang perjalanan sejarah kawasan Krapyak sekaligus memetakan arah kebudayaan kampung di masa depan.

“Grebeg Subali bukan sekadar kegiatan pertunjukan atau perayaan budaya. Kami ingin menjadikannya ruang bersama untuk mengingat kembali cerita dan sejarah Krapyak, melihat perubahan yang terjadi hari ini, sekaligus memikirkan apa yang ingin kita wariskan kepada generasi berikutnya,” ujar Adam Adjie Kurniawan di Semarang, (9/9/2026).

Adam menilai partisipasi aktif warga menempati posisi paling krusial dalam pelaksanaan Grebeg Subali. Panitia menolak menempatkan masyarakat hanya sebagai penonton pasif, melainkan mendorong mereka untuk mengambil peran langsung dalam setiap tahapan agenda budaya.

“Melalui Grebeg Subali, masyarakat tidak hanya menjadi penonton, tetapi ikut terlibat dalam merawat ingatan, kebudayaan, dan identitas kampung. Kami berharap kegiatan ini bisa menjadi tradisi yang terus tumbuh dan melibatkan semakin banyak masyarakat, terutama generasi muda,” imbuhnya.

Gagasan utama Grebeg Subali lahir dari kesadaran bahwa sejarah sebuah kampung tidak selalu terekam abadi dalam wujud arsip resmi. Seringkali, jejak peradaban justru hidup dan bernapas melalui tradisi lisan yang warga wariskan lintas generasi.

Kawasan Krapyak sendiri menyimpan segudang cerita sejarah tentang dinamika perubahan tata ruang dan lingkungan. Salah satu kisah populer menyinggung keberadaan Randu Alas, sebuah pohon randu raksasa yang dulu menjadi ikon lanskap kampung. Warga juga masih menyimpan memori tentang Dalan Kebo, jalur perlintasan kerbau pembajak sawah yang kini telah bersalin rupa menjadi Jalan Subali Raya yang padat.

Walaupun laju zaman telah melenyapkan sebagian besar penanda fisik tersebut, cerita tentang masa lalu Krapyak tetap melekat kuat dalam memori kolektif masyarakat. Fakta sosiologis inilah yang memantapkan tekad warga untuk terus melestarikan tradisi Grebeg Subali.

Kurator Grebeg Subali 2026, Tri Subekso, menjelaskan bahwa pemilihan tema “Ngeling, Ngilo, Nginguk” merepresentasikan upaya warga dalam merajut benang merah antara masa lalu, kondisi masa kini, dan visi masa depan.

“Tema Ngeling, Ngilo, Nginguk kami pilih karena Krapyak memiliki banyak cerita dan jejak masa lalu yang penting untuk diingat. Ada ruang, nama tempat, tradisi, dan pengalaman masyarakat yang mungkin secara fisik sudah berubah, tetapi memorinya masih hidup,” kata Tri Subekso.

Tri menegaskan bahwa upaya penggalian sejarah dalam pergelaran Grebeg Subali tidak bertujuan sekadar memanjakan warga dengan romantisme masa lalu semata.

“Grebeg Subali kami rancang bukan untuk membawa masyarakat sekadar bernostalgia. Masa lalu perlu dilihat sebagai cermin untuk memahami kondisi hari ini dan menjadi pijakan untuk menentukan masa depan. Karena itu, seni, diskusi, pameran, workshop, dan kirab kami tempatkan sebagai bagian dari perjalanan tersebut,” tambahnya.

Panitia telah menyiapkan serangkaian agenda padat untuk menyemarakkan Grebeg Subali 2026. Membuka hari pertama pada Jumat (25/9), warga akan menggelar prosesi budaya Kalangwan Ibu Pertiwi. Mereka akan berjalan kaki mengelilingi kampung sembari menenteng lentera dan menyenandungkan tembang “Ketawang Ibu Pertiwi” mahakarya mendiang seniman Ki Nartosabdo.

Setelah prosesi tersebut rampung, warga akan memasang Lampu Teng-Teng di berbagai titik strategis Krapyak. Hari pertama ini juga menghadirkan agenda pembukaan pameran, pementasan Teater GEMA, serta forum diskusi budaya bertajuk “Dudah Krapyak: Dari Pesisir, Perkampungan, hingga Lahirnya Perumnas”. Forum diskusi ini mendapuk Tri Subekso dan Dina Prasetyawan sebagai pemantik, dengan menghadirkan narasumber kompeten seperti Sutanto, Rendra Agusta, dan Johanes Christiono.

Memasuki hari kedua pada Sabtu (26/9), panitia menggelar lokakarya edukatif workshop Wayang Suket yang bersanding meriah dengan berbagai pertunjukan kesenian rakyat.

Sebagai puncak acara pada Minggu (27/9), peserta bisa mengikuti workshop Lampu Teng-Teng sebelum menyambut kemeriahan Kirab Budaya. Panitia menjadwalkan pawai kirab ini berlangsung mulai pukul 15.00 hingga 17.30 WIB, melintasi rute dari Jalan Subali Raya hingga berujung di Jalan Hanoman Raya. Iring-iringan kirab akan menampilkan Pataka Grebeg Subali, pawai tokoh wayang wanara, atraksi kesenian rakyat, gunungan hasil bumi, serta berbagai instalasi yang merepresentasikan memori kampung.

Melalui pergelaran budaya akbar ini, Grebeg Subali 2026 siap menjadi wadah perjumpaan yang menyatukan masyarakat, kepingan sejarah, seni, dan nilai kebudayaan lokal.

Fajrul Amienurrahman Mahmud

LAINNYA