Kenalkan Tari Dug Dug Der, Wali Kota Agustina Jadikan Tarian Baru Ini Simbol Kebersamaan Warga Semarang

waktu baca 3 menit
Selasa, 11 Agu 2026 15:10 14 Fajrul Amienurrahman Mahmud

NALARMEDIA.COM – Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, resmi memperkenalkan Tari Dug Dug Der sebagai simbol identitas budaya lokal yang baru. Inovasi seni tari ini lahir untuk merepresentasikan karakter asli masyarakat Kota Semarang sekaligus membawa pesan filosofis yang kuat tentang nilai kebersamaan, toleransi beragama, dan semangat gotong royong.

Agustina menjelaskan bahwa penciptaan Tari Dug Dug Der berakar langsung dari perjalanan sejarah Kota Semarang. Sejak dahulu, kota ini tumbuh subur berkat perjumpaan harmoni antarbudaya, etnis, agama, dan tradisi. Para seniman mengambil ruh tarian ini dari kemeriahan tradisi tahunan Dugderan yang kini berstatus sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia.

“Kota Semarang berdiri di atas keberagaman. Perbedaan bukan sesuatu yang memisahkan, melainkan kekuatan yang menyatukan kita. Filosofi itulah yang hidup dalam Tari Dug Dug Der. Gerakan-gerakannya merupakan simbol masyarakat yang melangkah bersama, saling menghormati, dan bergotong royong membangun kota,” ujarnya pada Kamis (6/8).

Sang Wali Kota memaparkan bahwa koreografer sengaja merancang gerakan Tari Dug Dug Der sesederhana mungkin agar semua lapisan masyarakat bisa mempelajarinya dengan mudah. Pemerintah berharap tarian ini bisa hidup, terus berkembang, dan menyatu dalam rutinitas harian anak-anak sekolah, komunitas pegiat seni, hingga masyarakat umum.

“Budaya hanya akan tetap hidup apabila terus diwariskan dan dipraktikkan oleh masyarakatnya. Karena itu, Tari Dug Dug Der hadir sebagai media untuk mengenalkan kembali nilai-nilai budaya lokal kepada generasi muda, agar mereka semakin bangga terhadap identitas daerahnya,” katanya.

Tidak sekadar melestarikan kesenian, Agustina menegaskan bahwa tolok ukur pembangunan Kota Semarang juga melingkupi penguatan modal sosial dan ikatan persaudaraan warga, bukan semata kemajuan fisik atau pertumbuhan ekonomi. Ia memproyeksikan Tari Dug Dug Der sebagai instrumen perekat sosial yang ampuh untuk membuktikan bahwa Semarang adalah kota yang aman, inklusif, dan sangat kondusif.

“Budaya adalah perekat kehidupan sosial. Saat warga dari berbagai latar belakang dapat menari bersama tanpa sekat, di situlah kita memperlihatkan wajah asli Kota Semarang: rukun, terbuka, dan menghargai keberagaman. Inilah modal terbesar kita untuk membangun masa depan,” tegasnya.

Demi memasyarakatkan tarian baru ini, Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang bersiap menggelar Festival Tari Dug Dug Der Semarang Tahun 2026. Panitia menjadwalkan ajang budaya berskala besar ini pada hari Minggu (9/8/2026), mulai pukul 06.00 WIB. Pemkot menargetkan keterlibatan sekitar 25 ribu penari untuk memenuhi Lapangan Pancasila Simpang Lima.

Pemkot sengaja memilih Simpang Lima karena kawasan ini menyimpan makna strategis sebagai ruang publik paling inklusif di jantung kota. Seluruh lapisan masyarakat bisa mengakses lokasi ini dengan mudah, menjadikannya wadah paling ideal untuk memamerkan semangat persatuan warga Semarang lewat satu harmoni gerakan yang serempak.

Pemerintah berharap festival ini mampu memperkokoh posisi tradisi Dugderan sebagai ikon budaya kebanggaan daerah, sekaligus memoles daya tarik sektor pariwisata lokal. Agustina sangat meyakini bahwa upaya pelestarian budaya yang berjalan beriringan dengan pembangunan infrastruktur kota akan membawa manfaat sosial, budaya, dan ekonomi yang nyata bagi kesejahteraan warga.

Memanfaatkan momentum emas ini, Agustina mengajak seluruh elemen masyarakat Kota Semarang untuk turun ke jalan, bergerak serentak, dan mencatatkan diri dalam sejarah pelestarian budaya daerah.

“Mari kita ramaikan Festival Tari Dug Dug Der besok Minggu, di Lapangan Pancasila Simpang Lima. Datanglah bersama keluarga, sahabat, dan tetangga. Mari bergerak bersama, merayakan keberagaman, mencintai budaya sendiri, dan menunjukkan kepada Indonesia bahwa Semarang adalah kota yang rukun, toleran, dan bangga akan budayanya,” pungkasnya.

Fajrul Amienurrahman Mahmud

LAINNYA