Langkah Tegas Pemprov Jateng Berantas Perundungan di Sekolah

waktu baca 2 menit
Selasa, 23 Jun 2026 14:16 2 Fajrul Amienurrahman Mahmud

NALARMEDIA.COM – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Pemprov Jateng) terus menggencarkan berbagai langkah strategis untuk memberantas praktik perundungan (bullying) di lingkungan sekolah seluruh wilayahnya.

Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah, Sadimin, menjelaskan bahwa pemerintah konsisten memperkuat program sekolah ramah anak. Program ini bertujuan mewujudkan suasana belajar yang aman, nyaman, sekaligus menyenangkan bagi seluruh peserta didik.

Sebagai langkah konkret, Pemprov Jateng membentuk Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di setiap satuan pendidikan. Tim ini menggandeng guru bimbingan konseling, wali kelas, serta bagian kesiswaan untuk merespons cepat berbagai dinamika dan masalah siswa.

Dinas Pendidikan juga merangkul Polda Jawa Tengah untuk melatih para pelajar tentang cara mencegah aksi perundungan, termasuk cyberbullying atau perundungan di media sosial.

“Sekitar 120 ribu anak sudah mengikuti pelatihan dan hasilnya cukup positif,” ungkap Sadimin saat menghadiri agenda Rembug Pembangunan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2026 di Pendopo Kota Tegal, Senin (22/6/2026).

Sadimin menambahkan, siswa atau orang tua bisa melaporkan kasus perundungan langsung ke pihak sekolah atau Dinas Pendidikan. Instansinya menjamin kerahasiaan identitas setiap pelapor agar mereka merasa aman.

“Harapannya Jawa Tengah bisa menuju zero bullying, sehingga anak-anak merasa aman, nyaman, dan senang belajar di sekolah,” ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menggarisbawahi komitmen pemerintah untuk menutup rapat ruang bagi tindak perundungan di ranah pendidikan.

“Untuk perundungan, no way. Tidak boleh ada lagi perundungan. Jangan takut melapor, harus diselesaikan,” tegas Luthfi.

Luthfi memandang pihak sekolah perlu memperkuat pencegahan lewat kolaborasi aktif antara Patroli Keamanan Sekolah (PKS), guru bimbingan konseling, dan wali kelas. Kepolisian juga siap mendukung langkah ini melalui pembinaan dan sosialisasi rutin ke sekolah-sekolah.

Sang Gubernur turut menyoroti fenomena kasus perundungan yang kerap baru terdeteksi setelah viral atau sudah memicu trauma psikologis berat bagi korban. Oleh sebab itu, sekolah wajib mengambil tindakan antisipasi sejak dini.

“Kampanyekan lagi anti-perundungan. Lakukan pembinaan di sekolah-sekolah sehingga upaya pencegahan bisa dilakukan sejak awal,” tuturnya.

Di sisi lain, Ketua Forum Anak Kota Tegal, Medina Almeira, merekomendasikan sekolah agar menyediakan program pendampingan psikologis secara rutin. Medina menyoroti tren penyelesaian kasus yang sering selesai hanya dengan permintaan maaf, padahal korban sangat membutuhkan pemulihan jangka panjang. Pelaku perundungan pun wajib mendapat pembinaan khusus agar tidak mengulang perbuatannya.

Medina mengajak semua pihak menanamkan budaya sekolah ramah anak secara lebih mendalam. Cara ini bisa berjalan efektif lewat kampanye masif, pendidikan karakter, penumbuhan empati, serta penyediaan ruang diskusi yang sehat antar pelajar.

Fajrul Amienurrahman Mahmud

LAINNYA