Pemprov Jateng Perkuat Sistem Perlindungan Santri di Lingkungan Pesantren

waktu baca 3 menit
Senin, 11 Mei 2026 07:02 9 Ella Elisa

NALARMEDIA.COM – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terus memperkuat perlindungan bagi para santri di lingkungan pondok pesantren. Salah satu langkah yang didorong yakni pembentukan satuan tugas (Satgas) anti-bullying serta anti-kekerasan terhadap perempuan dan anak di seluruh pesantren di Jawa Tengah.

Hal tersebut disampaikan Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen dalam acara Halaqah Interaktif Pengasuh Pesantren Putri Jawa Tengah bertema “Dari Pesantren untuk Pesantren: Membangun Sistem Perlindungan Santri Berbasis Nilai Pesantren di Jawa Tengah” yang digelar di Pendopo Kabupaten Banjarnegara, Minggu, 10 Mei 2026.

Menurut Gus Yasin, penguatan perlindungan santri dilakukan melalui kolaborasi antara Pemprov Jawa Tengah dengan Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama.

“Intinya adalah edukasi ke pesantren-pesantren tentang pentingnya perlindungan santri, kemudian pembentukan satgas anti-bullying dan anti-kekerasan terhadap perempuan dan anak,” ujarnya.

Ia menegaskan, perlindungan santri tidak cukup hanya melalui penanganan kasus, tetapi juga harus dibangun dengan sistem yang terintegrasi, mulai dari aspek kesehatan, pendidikan, hingga pendampingan psikologis.

Sebagai bentuk dukungan, Pemprov Jateng juga mengintegrasikan program Dokter Spesialis Keliling (Spelling) dengan program anjangsana pesantren milik Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama. Melalui program tersebut, layanan kesehatan akan langsung menjangkau lingkungan pesantren.

Tidak hanya pemeriksaan kesehatan fisik, layanan tersebut nantinya juga diperkuat dengan pendampingan psikolog dan psikiater.

“Kasus kekerasan sering kali tidak terungkap karena korban takut bicara. Karena itu, kami sedang merumuskan kanal aduan khusus yang bisa diakses secara profesional, termasuk lewat layanan telemedis,” kata Gus Yasin.

Ia menambahkan, pesantren harus menjadi ruang aman yang tidak hanya mendidik secara ilmu pengetahuan, tetapi juga memberikan perlindungan emosional dan psikologis bagi santri.

Selain memperkuat perlindungan, Pemprov Jateng juga terus mendorong pemberdayaan pesantren melalui program beasiswa pendidikan. Saat ini tercatat lebih dari 600 pendaftar dari kalangan kiai, ustaz, ustazah, hingga santri untuk mengikuti program beasiswa dalam maupun luar negeri.

Program tersebut difasilitasi melalui kerja sama dengan 41 perguruan tinggi di Indonesia serta akses pendidikan ke sejumlah negara seperti Mesir dan Yaman.

“Harapannya setelah selesai studi, mereka kembali khidmah ke pesantren. Ini investasi sumber daya manusia untuk masa depan pesantren Jawa Tengah,” ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Arifatul Choiri Fauzi menegaskan pentingnya perlindungan anak sebagai agenda strategis nasional.

Menurutnya, pesantren memiliki posisi penting dalam membangun lingkungan pendidikan yang aman karena menjadi tempat pengasuhan anak selama 24 jam.

Sementara itu, Ketua Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama, Ahmad Fadlullah Turmudzi mengatakan pihaknya selama dua tahun terakhir aktif melakukan pendampingan dan konsolidasi ke pesantren-pesantren di seluruh Jawa Tengah.

Dari hasil pendampingan tersebut, pihaknya melihat perlunya penguatan pola pengasuhan, peningkatan kapasitas pembimbing, hingga sistem perlindungan santri yang lebih terstruktur.

Pada akhir kegiatan, para pengasuh pesantren se-Jawa Tengah juga menyampaikan sejumlah rekomendasi, salah satunya mendorong pembentukan Satgas Perlindungan Santri (SPS) di seluruh pesantren sebagai upaya menciptakan lingkungan pendidikan yang aman dan nyaman bagi para santri. (*)

LAINNYA