Penerbangan Terdampak Erupsi Anak Krakatau, Pemprov Jateng Siapkan Jalur Darat untuk Kafilah MTQ

waktu baca 4 menit
Selasa, 8 Sep 2026 09:34 16 Fajrul Amienurrahman Mahmud

NALARMEDIA.COM – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah bergerak cepat mengantisipasi imbas letusan Gunung Anak Krakatau terhadap kelancaran perjalanan udara para kafilah Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional yang akan berlaga di Kota Semarang.

Berdasarkan hasil pendataan, rombongan kafilah dari 10 provinsi memiliki jadwal perjalanan yang sangat bergantung pada operasional Bandara Internasional Soekarno-Hatta, baik sebagai titik lokasi transit maupun rute utama penerbangan menuju Jawa Tengah.

Kesepuluh provinsi tersebut meliputi wilayah Maluku Utara, Papua Tengah, Lampung, Riau, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Nusa Tenggara Barat, Bangka Belitung, Maluku, hingga Aceh.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Jawa Tengah, Agung Pramono, menyoroti ancaman gangguan operasional penerbangan akibat kepungan abu vulkanik tersebut. Ia menilai pemerintah harus menaruh perhatian ekstra mengingat jadwal kedatangan ribuan kafilah ke Semarang sudah semakin dekat.

“Kalau nantinya (Bandara) Soekarno-Hatta memang belum beroperasi, berarti mereka harus melakukan reschedule atau perubahan jadwal maupun pengalihan moda transportasi. Tetapi untuk area transportasi darat, kami siap,” kata Agung dalam acara konferensi pers di Kantor Gubernur Jawa Tengah, Semarang, Senin, 7 September 2026.

Merespons situasi darurat tersebut, jajaran Dishub langsung menjalin koordinasi intensif dengan PT Kereta Api Indonesia (KAI). Langkah taktis ini pemerintah ambil untuk mengantisipasi lonjakan penumpang jalur darat, khususnya pada rute-rute yang sebelumnya mengandalkan moda transportasi udara.

Pada kesempatan yang sama, General Manager PT Angkasa Pura Bandara Internasional Jenderal Ahmad Yani Semarang, Sulistyo Yulianto, memastikan fasilitas pendaratan di ibu kota Jawa Tengah ini dalam kondisi prima untuk mendukung kelancaran mobilitas para peserta MTQ.

Manajemen Bandara Ahmad Yani bahkan telah memperpanjang jam operasional menjadi 24 jam penuh terhitung sejak Minggu (6/9) malam. Pengelola menerapkan kebijakan khusus ini untuk merespons potensi masuknya penerbangan di luar jadwal maupun pendaratan darurat akibat pengalihan rute dari bandara lain yang terdampak erupsi.

Sulistyo memaparkan bahwa pihaknya terus memantau pergerakan udara para kafilah yang berencana terbang menuju Jawa Tengah. Jika para delegasi gagal menembus rute penerbangan via Jakarta, pengelola bandara akan segera berkoordinasi dengan pihak terkait untuk membuka jalur penerbangan langsung menuju Semarang atau menyiapkan rute alternatif udara lainnya.

“Bandara Semarang sampai dengan saat ini siap untuk mendukung kegiatan nasional di Jawa Tengah,” katanya.

Data resmi Angkasa Pura hingga Senin pukul 10.00 WIB mencatat bahwa imbas erupsi Gunung Anak Krakatau telah memaksa maskapai membatalkan 29 penerbangan di Bandara Ahmad Yani. Rincian pembatalan tersebut mencakup 14 jadwal keberangkatan dan 15 jadwal kedatangan.

Keputusan pembatalan terbang ini secara otomatis menunda perjalanan 3.420 penumpang, yang terdiri atas 1.842 penumpang keberangkatan dan 1.578 penumpang kedatangan. Otoritas bandara mencatat mayoritas penerbangan yang gagal mengudara tersebut melayani rute dari dan menuju Jakarta.

Beralih ke sisi pantauan cuaca, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi bahwa potensi ancaman sebaran abu vulkanik yang mengarah ke wilayah Jawa Tengah saat ini masih berstatus relatif aman.

“Dari data terakhir kami yang mengacu pada VAAC Darwin, baik pada lapisan bawah maupun lapisan atas, sekarang mayoritas arah anginnya ke arah barat. Itu sebabnya secara relatif untuk Jawa Tengah potensinya aman dan hasil pemantauannya negatif,” kata Kepala Stasiun Meteorologi Ahmad Yani Semarang, Yoga Sambodo.

Hasil pengujian debu vulkanik (paper test) yang petugas gelar pada 6 dan 7 September di kawasan Bandara Ahmad Yani juga menunjukkan konfirmasi negatif. Temuan serupa turut terlaporkan dari pos pemantauan udara di wilayah Tegal, Cilacap, hingga Kertajati.

Sementara itu, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah, Bergas Catursari Penanggungan, memastikan bahwa hingga Senin (7/9/2026), pemerintah belum menerima laporan mengenai dampak erupsi Anak Krakatau yang mengganggu mobilitas warga Jawa Tengah secara signifikan.

“Belum ada laporan yang secara signifikan mengganggu aktivitas masyarakat,” kata Bergas.

Kendati kondisi masih terkendali, BPBD terus mengimbau seluruh pemerintah kabupaten/kota untuk melipatgandakan tingkat kewaspadaan. Petugas meminta masyarakat agar proaktif mengenakan masker saat beraktivitas di luar rumah apabila mereka mendapati kepulan debu atau asap pekat di udara.

Menyambung kesiapan pergelaran MTQ, Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maemoen, memastikan proses pengerjaan fisik dan penataan lokasi MTQ Nasional kini telah menyentuh tahap penyelesaian akhir. Panitia terus memeras keringat mengebut penyelesaian proyek agar seluruh arena lomba dan panggung upacara pembukaan bisa beroperasi secara paripurna pada 10 September mendatang, tepat sehari sebelum rangkaian MTQ Nasional XXXI resmi bergulir.

Fajrul Amienurrahman Mahmud

LAINNYA