Perkuat Akses Air Bersih Papua, TEP UNDIP Gelar FGD dan Petakan Kebutuhan Sanitasi Transmigrasi Senggi

waktu baca 3 menit
Kamis, 27 Agu 2026 14:22 15 Fajrul Amienurrahman Mahmud

NALARMEDIA.COM – Tim Ekspedisi Patriot Universitas Diponegoro (TEP UNDIP) 2026 menyelenggarakan kegiatan Focus Group Discussion (FGD) 1 bersama jajaran Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Keerom pada Senin (3/8). Langkah strategis ini mengawali proses konsolidasi, sosialisasi, dan pemetaan isu terkait kajian Infrastruktur Dasar Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) serta Sanitasi Air Limbah Domestik di Kawasan Transmigrasi Senggi, Provinsi Papua.

Pertemuan ini bertujuan menyatukan visi antara tim pelaksana dan pemerintah daerah mengenai rencana kegiatan, verifikasi data, hingga tinjauan kondisi fasilitas yang sudah ada. Para peserta fokus memetakan kendala pelayanan, potensi pengembangan wilayah, dan arah kajian lapangan untuk merumuskan rekomendasi yang tepat sasaran.

Plt. Kepala Dinas PUPR Kabupaten Keerom, Ferry Amo, S.IP., menyambut antusias pelaksanaan kajian tersebut. Ia mengapresiasi kolaborasi ini sebagai fondasi kuat untuk merumuskan kebijakan pembangunan infrastruktur wilayah berdasarkan data faktual.

“FGD ini menjadi langkah penting untuk menyatukan pemahaman dan kebutuhan antar pihak, khususnya dalam penyediaan air minum dan sanitasi di Kawasan Transmigrasi Senggi. Pemerintah Kabupaten Keerom mendukung penuh proses kajian, pengumpulan data, dan survei lapangan agar rekomendasi yang dihasilkan benar-benar sesuai dengan kondisi masyarakat serta menjadi dasar perencanaan pembangunan yang berkelanjutan,” ujar Ferry.

Sepanjang jalannya diskusi, forum tidak sekadar menyelaraskan data formal, tetapi juga menyoroti realitas pelayanan air bersih dan sanitasi di tengah masyarakat. TEP UNDIP bersama jajaran pemerintah daerah membedah kondisi infrastruktur eksisting, hambatan pelayanan, potensi kawasan, serta kebutuhan mendesak masyarakat sebagai acuan menajamkan kajian lapangan.

Menindaklanjuti hasil konsolidasi, tim peneliti langsung turun ke Kampung Woslay Satuan Permukiman (SP) 1 untuk mengamati potret kehidupan masyarakat. Tim menggali informasi utuh mengenai penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), kebiasaan pemanfaatan air, fasilitas sanitasi rumah tangga, hingga kebutuhan pelayanan dasar keluarga.

Mengacu pada hasil wawancara, warga Kampung Woslay SP 1 sebenarnya mulai memahami pentingnya penerapan PHBS, meski ketersediaan fasilitas fisik masih sangat memengaruhi kebiasaan mereka.

“Air sudah menjadi kebutuhan utama untuk aktivitas sehari-hari, mulai dari memasak, mandi, mencuci hingga membersihkan lingkungan rumah. Pada kondisi tertentu, keterbatasan kualitas maupun ketersediaan air menyebabkan kami harus menyesuaikan penggunaannya dengan sumber air yang tersedia,” jelas Martina, salah satu warga Kampung Woslay SP 1.

Realitas di lapangan membuktikan bahwa keberhasilan kampanye PHBS sangat bergantung pada ketersediaan sarana air bersih dan sanitasi yang memadai. Bagi warga setempat, hidup bersih bukan sebatas kebiasaan, melainkan menuntut kehadiran air aman, jamban layak, dan lingkungan sehat. Tim juga menemukan urgensi pendampingan warga yang menyentuh kearifan lokal, seperti edukasi pengelolaan sampah, pencegahan genangan limbah domestik, hingga pembiasaan cuci tangan menggunakan sabun.

Karena itu, pemerintah tidak bisa hanya mengandalkan edukasi pengetahuan untuk meningkatkan standar PHBS, tetapi wajib membarenginya dengan pembangunan fasilitas fisik. Suara warga ini memberikan bukti empiris yang melengkapi data pemerintah. Dengan memadukan data Pemkab Keerom dan aspirasi warga Woslay SP 1, TEP UNDIP segera merumuskan rekomendasi SPAM dan sanitasi yang tepat guna, mudah warga operasikan, dan berdampak langsung pada kesehatan masyarakat Senggi.

Lewat kolaborasi erat antara pemerintah dan masyarakat ini, TEP UNDIP berkomitmen melahirkan rekomendasi yang benar-benar menjawab kebutuhan nyata lapangan. Aspirasi warga Woslay SP 1 sukses menjadi landasan utama untuk memastikan perencanaan infrastruktur dan edukasi PHBS di Kawasan Transmigrasi Senggi berjalan efektif.

Rangkaian kajian infrastruktur dasar TEP UNDIP ini secara langsung mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Kontribusi ini mencakup perluasan akses air bersih dan sanitasi (SDG 6), peningkatan kesehatan masyarakat lewat PHBS (SDG 3), perwujudan kawasan permukiman inklusif (SDG 11), serta penguatan kemitraan antara akademisi, pemerintah, dan masyarakat lokal (SDG 17).

Fajrul Amienurrahman Mahmud

LAINNYA