Tak Sekadar Salurkan Bantuan, Program Desa Dampingan Pemprov Jateng Sukses Bangkitkan Ekonomi Wonogiri

waktu baca 5 menit
Sabtu, 15 Agu 2026 12:57 13 Fajrul Amienurrahman Mahmud

NALARMEDIA.COM – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah terus menggencarkan berbagai upaya strategis untuk mengentaskan kemiskinan di wilayahnya. Pemprov tidak sekadar membagikan bermacam bantuan sosial, tetapi juga proaktif menghidupkan urat nadi perekonomian warga desa.

Praktik nyata ini terlihat dari inisiatif RSJD dr. Arif Zainudin Surakarta yang menjalankan Program Desa Dampingan di Desa Minggarharjo, Kecamatan Eromoko, Kabupaten Wonogiri. Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, turun langsung meninjau pelaksanaan program pendampingan tersebut pada Kamis (13/8/2026).

Dalam mengeksekusi program di Desa Minggarharjo, tim medis dan pendamping melakukan intervensi berdasarkan hasil asesmen langsung terhadap kondisi warga. Tim RSJD dr. Arif Zainudin memetakan bahwa warga memiliki potensi ekonomi utama pada sektor pertanian dan peternakan. Di sisi lain, mereka juga menemukan sejumlah persoalan krusial terkait pengembangan UMKM, kesehatan warga, minimnya fasilitas sanitasi, hingga banyaknya Rumah Tidak Layak Huni (RTLH).

Oleh karena itu, pemerintah mengarahkan penyaluran bantuan tidak hanya untuk menambal kebutuhan dasar harian, tetapi juga untuk memacu dan memperkuat kapasitas aktivitas ekonomi masyarakat setempat.

Pada acara kunjungan tersebut, pemerintah menyerahkan dana peningkatan kualitas empat unit RTLH senilai Rp40 juta dan kucuran dana Kelompok Usaha Bersama (KUBE) sebesar Rp20 juta. Selain itu, warga juga menerima empat paket modal usaha senilai Rp12 juta serta pembiayaan pembangunan tiga unit fasilitas sanitasi (jambanisasi) senilai Rp19,11 juta.

Kolaborasi dukungan juga mengalir deras dari sektor dunia usaha. PT Djarum turut menyumbangkan lima unit Rumah Sederhana Layak Huni (RSLH) senilai Rp370 juta. Sementara itu, PT Jamkrida Jateng menggelontorkan dana sebesar Rp50 juta untuk membangun 15 unit fasilitas jamban.

Jika menjumlahkan seluruh kontribusi tersebut, total nilai bantuan yang mengalir untuk mendukung rangkaian intervensi di Desa Minggarharjo mencapai angka sekitar Rp511,11 juta.

Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, memaparkan bahwa satu instansi pemerintah saja tidak akan sanggup menuntaskan persoalan kemiskinan. Ia menegaskan pemerintah sangat membutuhkan kolaborasi erat dari berbagai pihak, mulai dari unsur dinas terkait, rumah sakit, BUMD, hingga perusahaan swasta, untuk mendampingi desa-desa yang masih mencatatkan tingkat kemiskinan tinggi.

Tokoh yang akrab dengan sapaan Gus Yasin ini membedah data Badan Pusat Statistik (BPS) terbaru yang menunjukkan tingkat kemiskinan Jawa Tengah telah turun dari 9,39 persen menjadi 9,21 persen. Kendati demikian, ia menyoroti angka kemiskinan Kabupaten Wonogiri yang masih bertengger di level 9,59 persen, sehingga posisinya masih berada di atas rata-rata provinsi.

Menyikapi fakta tersebut, Pemprov Jateng segera memetakan kondisi wilayah hingga ke tingkat kecamatan dan desa. Langkah ini bertujuan menentukan titik wilayah mana saja yang paling mendesak membutuhkan intervensi lanjutan.

“Dari Wonogiri ini kita petakan lagi kecamatannya. Kecamatan yang masih di atas data Kabupaten Wonogiri mana? Nah, kebetulan di Kecamatan Eromoko ini masih di atas Wonogiri. Sehingga perlu diintervensi,” ujarnya.

Gus Yasin juga mewanti-wanti seluruh pihak agar mengawal bantuan ekonomi ini secara ketat. Ia ingin memastikan stimulus tersebut benar-benar berkembang dan sukses menghasilkan pendapatan rutin bagi para penerimanya.

“Tujuan kita memberikan bantuan kelompok-kelompok usaha bersama ini supaya menjadi income (pendapatan),” katanya.

Lebih jauh, ia berjanji akan kembali mengunjungi desa tersebut untuk memantau perkembangan penyaluran bantuan. Jika warga berhasil menernakkan bantuan kambing dan kelompok KUBE mampu mengelola usahanya dengan baik, pemerintah membuka peluang besar untuk menyalurkan bantuan serupa kepada kelompok masyarakat lainnya.

Ia meyakini pola pemberdayaan seperti ini merupakan kunci utama dalam strategi pengentasan kemiskinan. Ia sangat berharap bantuan pemerintah tidak sekadar berhenti sebagai barang konsumsi, melainkan terus tumbuh menjadi aset produktif yang menyejahterakan warga.

Di tempat yang sama, Direktur RSJD dr. Arif Zainudin, Setyowati Raharjo, mengungkapkan bahwa timnya telah memulai program pendampingan di Desa Minggarharjo sejak Januari 2026. Tim rumah sakit mengawali proses panjang ini dengan melakukan identifikasi dan survei lapangan guna memetakan seluruh persoalan sekaligus menggali potensi terpendam desa.

“Yang kami lakukan dari hasil survei dari peternakan, pertanian, UMKM dan kesehatan,” katanya.

Pada sektor peternakan, warga setempat sebenarnya telah giat memelihara sapi, kambing, dan ayam. Namun, tim menemukan bahwa warga masih menerapkan pola pemberian dan pembuatan pakan ternak secara konvensional.

Sementara itu pada sektor pertanian, para petani masih sangat mengandalkan curah hujan sehingga mereka hanya mampu memanen komoditas utama satu kali dalam setahun. Saat musim kemarau tiba, warga menyiasati kondisi dengan menanam jagung, kacang tanah, tembakau, dan melon. Sayangnya, para petani kerap mengeluhkan serangan hama tikus yang merusak produktivitas panen mereka.

Guna mendongkrak kapasitas sektor peternakan, RSJD dr. Arif Zainudin menghibahkan tiga unit mesin pencacah. Warga bisa memanfaatkan mesin canggih ini untuk memotong rumput pakan sekaligus mengolah limbah kotoran ternak menjadi pupuk kompos yang bernilai jual.

“Dengan adanya pengolahan, pelatihan, pendampingan seperti ini harapannya pertaniannya semakin baik,” ujar Taj Yasin.

Bergeser ke sektor UMKM, desa ini ternyata menyimpan potensi usaha produksi makanan rengginang, kerajinan wayang kulit, hingga pembuatan kain batik tulis. Lantaran perajin masih memproduksi barang berdasarkan pesanan, pemerintah menilai warga sangat membutuhkan penguatan strategi pemasaran agar jangkauan pasar dan angka penjualan mereka bisa melesat naik.

Tak luput dari perhatian, program pendampingan ini juga menyasar perbaikan sektor kesehatan warga. Hasil identifikasi tim medis menemukan delapan balita yang berisiko mengalami stunting dan tiga bayi di bawah dua tahun (baduta) yang sudah terindikasi stunting. Tim juga memantau kondisi empat orang warga pengidap gangguan kesehatan jiwa yang sebelumnya pernah menjalani perawatan intensif di RSJD dr. Arif Zainudin.

Setyowati memastikan bahwa timnya mengeksekusi program pendampingan ini secara bertahap. Rangkaian kegiatan bermula dari agenda penyuluhan kesehatan jiwa, pelatihan tata cara budidaya kambing modern, penyerahan bantuan alat kerja, hingga pendampingan penyusunan proposal KUBE untuk menarik fasilitas dana CSR dari pihak swasta.

Merespons hal tersebut, Kepala Desa Minggarharjo, Tri Wiyono, sangat mengapresiasi kehadiran berbagai program ini. Ia mengakui kolaborasi ini sangat membantu pemerintah desa dalam menanggulangi berbagai persoalan yang tidak sanggup mereka biayai hanya dengan mengandalkan kucuran Dana Desa.

“Harapannya mudah-mudahan tetap masih berlanjut sampai warganya betul-betul sejahtera,” ucapnya.

Ia menilai durasi pendampingan selama satu tahun ini sangat vital. Pasalnya, desa masih menyimpan sejumlah pekerjaan rumah ekonomi yang membutuhkan penanganan berkelanjutan. Salah satu contoh nyata adalah kondisi para perajin alat musik gamelan lokal yang saat ini tengah berjuang keras karena sepinya pesanan.

Fajrul Amienurrahman Mahmud

LAINNYA