Pegiat media sosial, Mararas Apuwara, menjadi narasumber dalam FGD tentang pentingnya konsep dalam menghasilkan konten media sosial yang berkualitas, Kamis (22/11/2026).NALARMEDIA.COM — Sekolah memiliki banyak cerita positif yang layak diketahui masyarakat. Mulai dari prestasi siswa, inovasi pembelajaran, kreativitas guru, hingga perjuangan peserta didik. Namun, berbagai potensi tersebut perlu dikemas secara menarik agar tidak berhenti sebagai dokumentasi kegiatan semata.
Penguatan kemampuan mengelola media sosial menjadi salah satu upaya yang didorong dalam Focus Group Discussion (FGD) Guru SMP se-Kota Semarang bertema “Penguatan Media Sosial Sekolah sebagai Strategi Pemasaran, Publikasi, dan Membangun Citra Positif Sekolah”.
Kegiatan yang didukung AlFazza Nabawi Tour tersebut berlangsung pada Kamis (22/10/2026) di Aula B Gedung Dinas Pendidikan Kota Semarang.
Forum ini membahas pentingnya perencanaan konten, penerapan prinsip jurnalistik, serta kreativitas dalam mengolah aktivitas pendidikan menjadi informasi yang menarik, edukatif, dan bermanfaat bagi masyarakat.
Sekretaris Dinas Pendidikan Kota Semarang, Drs. Ali Sofyan, menekankan bahwa media sosial dapat menjadi sarana strategis untuk memperkenalkan berbagai potensi dan capaian sekolah kepada publik.
Menurutnya, prestasi peserta didik, inovasi pembelajaran, program unggulan, dan aktivitas positif sekolah merupakan materi publikasi yang perlu dikelola secara kreatif dan berkelanjutan.
Akurasi informasi dan etika komunikasi publik juga harus menjadi perhatian agar setiap konten yang diterbitkan dapat dipertanggungjawabkan.
Wartawan senior Otong Fajari yang hadir sebagai narasumber menjelaskan bahwa pengelolaan konten media sosial sekolah dapat mengadopsi prinsip-prinsip dasar jurnalistik.
Menurut Otong, publikasi yang baik tidak hanya menjelaskan bahwa sebuah kegiatan telah dilaksanakan, tetapi juga memberikan informasi mengenai siapa yang terlibat, apa manfaatnya, dan mengapa kegiatan tersebut penting diketahui masyarakat.
Prinsip 5W+1H, meliputi what, who, when, where, why, dan how, dapat digunakan untuk membantu pengelola media sosial menyusun konten yang lengkap dan mudah dipahami.
“Materi yang sederhana dapat menjadi menarik apabila disampaikan melalui sudut pandang, narasi, dan visual yang tepat,” ujar Otong.
Ia menambahkan, guru yang bertugas mengelola media sosial sekolah membutuhkan dukungan dari pihak sekolah. Sebab, produksi konten memerlukan waktu, tenaga, kreativitas, dan perencanaan, sementara guru tetap harus menjalankan tugas pembelajaran.
Karena itu, publikasi sekolah perlu dikelola sebagai bagian dari komunikasi kelembagaan, bukan sekadar tugas tambahan tanpa perencanaan dan pembagian tanggung jawab yang jelas.

Pegiat media sosial, Mararas Apuwara, menyoroti pentingnya konsep dalam menghasilkan konten media sosial yang berkualitas.
Ia menjelaskan bahwa pembuatan video perlu diawali dengan penentuan ide, penyusunan alur cerita, pemilihan materi, hingga perancangan pesan yang ingin disampaikan kepada masyarakat.
“Tanpa konsep dan perencanaan yang matang, unggahan media sosial berisiko hanya menjadi dokumentasi biasa yang minim daya tarik dan kurang memberikan dampak terhadap citra sekolah,” ujar Mararas, yang juga Anggota DPRD Kota Semarang.
Mararas mendorong sekolah menyusun kalender konten mingguan agar tema, jadwal produksi, dan waktu publikasi dapat ditentukan secara teratur.
Ia juga mendorong pengelola media sosial sekolah menghasilkan setidaknya satu konten berkualitas setiap hari. Dengan perencanaan yang baik, aktivitas pendidikan sehari-hari dapat diolah menjadi materi publikasi yang menarik dan relevan bagi masyarakat.
CEO AlFazza Nabawi Tour sekaligus Ketua DPC PPP Kota Semarang, dr. Muhammad Hayyi Wildani, menilai publikasi kegiatan positif sekolah berperan penting dalam membangun kepercayaan masyarakat terhadap lembaga pendidikan.
Menurut Hayyi, cerita yang layak diangkat tidak terbatas pada penghargaan atau prestasi siswa. Dedikasi guru, perjuangan peserta didik dalam menempuh pendidikan, serta dukungan orang tua juga dapat menjadi sumber inspirasi.
Kisah-kisah tersebut dapat dikemas menjadi konten edukatif yang memperlihatkan nilai kemanusiaan dan semangat belajar di lingkungan sekolah.
Ia menilai, komunikasi yang tepat membantu masyarakat memahami program, potensi, dan kualitas pendidikan yang ditawarkan oleh sekolah.
FGD ini menjadi ruang berbagi pengalaman antara insan pers, unsur legislatif, praktisi, serta guru dan pengelola media sosial SMP se-Kota Semarang.
Melalui penguatan kompetensi tersebut, sekolah diharapkan mampu mengembangkan publikasi yang lebih terarah dan konsisten. Dengan demikian, media sosial tidak hanya menjadi tempat mengunggah foto kegiatan, tetapi juga sarana menyampaikan informasi, menginspirasi masyarakat, dan memperkuat citra positif pendidikan.
Pada akhirnya, setiap aktivitas sekolah memiliki peluang menjadi cerita yang bermakna selama diolah berdasarkan fakta, disampaikan dengan kreativitas, dan memperhatikan kebutuhan informasi masyarakat.(**)