Jelang Lebaran, Gubernur Ahmad Luthfi dan Mendag Tinjau Harga serta Ketersediaan Bahan Pokok di Pasar Kudus

waktu baca 3 menit
Kamis, 12 Mar 2026 16:18 15 Ella Elisa

NALARMEDIA.COM – Menjelang Hari Raya Idulfitri 2026, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi bersama Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso melakukan pemantauan harga dan ketersediaan kebutuhan pokok di Pasar Baru, Kabupaten Kudus, Kamis (12/3/2026).

Kegiatan tersebut dilakukan untuk memastikan harga bahan pokok tetap stabil serta pasokannya aman menjelang perayaan Lebaran.

Dalam peninjauan itu, keduanya turut didampingi Bupati Kudus Sam’ani Intakoris. Mereka menyusuri area pasar dan berhenti di sejumlah lapak pedagang untuk menanyakan langsung harga berbagai komoditas seperti daging ayam, daging sapi, beras, minyak goreng, hingga telur.

“Harga dagingnya berapa, Bu?” tanya Mendag Budi Santoso saat berdialog dengan salah satu pedagang.

“Alhamdulillah masih standar Rp140 ribu untuk daging kerbau dan sapi. Tapi saat ini sapi agak susah,” ujar Rina, salah satu pedagang.

Menurut Rina, harga daging mulai mengalami kenaikan sejak awal tahun. Meski begitu, para pedagang berharap pasokan tetap tersedia menjelang Lebaran.

Pada lapak sayur, pedagang menyebut harga cabai rawit merah saat ini sekitar Rp30.000 per kilogram, sedangkan cabai rawit setan mencapai Rp40.000 per kilogram.

Harga tersebut masih berada di bawah Harga Eceran Tertinggi (HET) yang tercantum pada papan informasi stabilisasi harga di pasar. Dalam daftar tersebut, harga acuan cabai rawit merah berada pada kisaran Rp40.000 hingga Rp57.000 per kilogram.

Adapun sejumlah komoditas lain juga tercantum dalam daftar harga acuan pemerintah, di antaranya beras premium Rp14.900/kg, beras medium Rp13.500/kg, beras SPHP Rp12.500/kg, minyak goreng Minyakita Rp15.700/liter, gula pasir Rp17.500/kg, serta telur ayam ras Rp30.000/kg.

Menteri Perdagangan Budi Santoso menyampaikan bahwa pemantauan pasar dilakukan guna memastikan stabilitas harga sekaligus ketersediaan bahan pokok menjelang Hari Raya Idulfitri.

“Pemantauan ini kami lakukan untuk memastikan harga tetap terkendali dan pasokan mencukupi, sehingga masyarakat bisa berbelanja dengan tenang,” kata Budi.

Ia menjelaskan, pemerintah memonitor perkembangan harga melalui Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP). Sistem tersebut memungkinkan pemantauan harga di sekitar 550 titik pasar yang tersebar di lebih dari 500 kabupaten dan kota.

“Melalui aplikasi itu kita bisa melihat perkembangan harga setiap hari. Ketika ada kenaikan harga, ada levelnya dan kita bisa langsung menentukan langkah intervensi,” jelasnya.

Meski demikian, menurutnya, pengecekan langsung ke pasar tetap diperlukan untuk mengetahui kondisi riil di lapangan terkait harga maupun ketersediaan barang.

“Kita tetap turun langsung ke pasar supaya tahu kondisi sebenarnya, baik ketersediaan barang maupun perkembangan harganya,” ujarnya.

Ia menambahkan, kehadiran pemerintah secara langsung di pasar juga dapat memberikan efek psikologis bagi pedagang agar tetap menjaga harga tetap stabil.

“Kalau kita datang langsung ke pasar, secara psikologis juga membantu para pedagang untuk menjaga harga agar tetap terkendali,” katanya.

Sementara itu, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menegaskan pemerintah daerah terus memantau perkembangan harga di pasar tradisional agar masyarakat tetap bisa memperoleh kebutuhan pokok dengan harga yang terjangkau.

“Kita akan intervensi apabila harga bahan pokok mengalami kenaikan harga,” ujarnya. (*)

LAINNYA
x