Inflasi Kota Semarang Maret 2026 Tetap Terkendali di Tengah Momentum Idulfitri

waktu baca 2 menit
Senin, 6 Apr 2026 22:40 0 Ella Elisa

NALARMEDIA.COM — Lonjakan permintaan menjelang hingga saat Idulfitri 2026 tidak serta-merta mendorong inflasi Kota Semarang melonjak tajam. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Semarang, inflasi bulanan (month-to-month) pada Maret 2026 tercatat sebesar 0,37 persen, masih dalam kategori terkendali.

Dalam rilis resmi BPS, inflasi tahun kalender (Januari–Maret 2026) mencapai 0,80 persen. Sementara itu, inflasi tahunan (year-on-year/yoy) berada di angka 3,57 persen, menurun cukup signifikan dibandingkan Februari 2026 yang sempat menyentuh 4,65 persen.

Penurunan ini menunjukkan adanya pelonggaran tekanan harga, meskipun masyarakat masih merasakan kenaikan pada sejumlah kebutuhan pokok selama Ramadan hingga Idulfitri.

Kepala BPS Kota Semarang, Rudi Cahyono, menjelaskan bahwa tingginya inflasi tahunan pada Februari 2026 dipengaruhi oleh fenomena low base effect atau efek basis rendah akibat kebijakan diskon tarif listrik sebesar 50 persen pada Februari 2025.

“Inflasi year-on-year sebelumnya mencapai 4,65 persen, yang dipengaruhi oleh efek basis rendah karena adanya diskon tarif listrik di awal 2025,” ujarnya, Sabtu (4/4).

Ia menambahkan, dampak kebijakan tersebut masih memengaruhi perhitungan inflasi hingga Maret 2026, baik secara bulanan maupun tahunan. Dengan demikian, tekanan harga riil di masyarakat sebenarnya tidak setinggi yang tergambar dalam angka inflasi tahunan sebelumnya.

Dari sisi ketersediaan pangan, kondisi relatif stabil. Kepala Bagian Perekonomian dan SDA Setda Kota Semarang, M. Luthfi Eko Nugroho, menyebutkan bahwa pasokan tetap terjaga dan harga masih dalam batas yang dapat dijangkau masyarakat.

“Alhamdulillah, ketersediaan barang terjamin dan harga masih terjangkau. Kenaikan ada, tetapi tidak sampai memberatkan masyarakat,” ungkapnya.

Pemerintah Kota Semarang juga terus melakukan pemantauan dan intervensi terhadap komoditas yang berpotensi memicu inflasi, khususnya bahan pangan. Koordinasi lintas organisasi perangkat daerah (OPD) diperkuat guna menjaga stabilitas harga sekaligus mempertahankan daya beli masyarakat.

Dengan capaian tersebut, inflasi Kota Semarang dinilai masih berada dalam batas aman. Hal ini menunjukkan bahwa langkah pengendalian harga yang dilakukan pemerintah daerah, seperti operasi pasar dan kerja sama dengan Bulog, cukup efektif dalam meredam gejolak musiman, termasuk saat Idulfitri.

Bagi masyarakat, kondisi ini memberikan ruang yang lebih lega. Meski terjadi kenaikan pada beberapa komoditas seperti daging ayam dan cabai, lonjakannya tidak berlangsung lama. Stabilitas harga diharapkan terus terjaga setelah Idulfitri, seiring normalnya permintaan dan distribusi barang. (*)

LAINNYA