Mahasiswa Universitas Semarang Edukasi Siswa SMP, Pelecehan Seksual Tak Kenal Gender

waktu baca 2 menit
Sabtu, 23 Mei 2026 22:32 8 Fajrul Amien

NALARMEDIA.COM – Ancaman pelecehan seksual bisa mengintai siapa saja tanpa memandang gender, baik laki-laki maupun perempuan. Merespons realitas ini, mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Semarang (USM) turun langsung mengedukasi siswa SMP Islam Sultan Agung 4 Semarang agar mereka lebih memahami berbagai bentuk pelecehan seksual tanpa terjebak bias gender.

Tim mahasiswa USM menyelenggarakan kegiatan bertajuk “Kesadaran dan Edukasi Pelecehan Seksual Tanpa Bias Gender” pada Kamis, 21 Mei 2026. Mereka mengusung pesan kuat melalui tagline “Siapa pun bisa jadi korban, siapa pun bisa jadi pelaku” dalam kampanye edukatif yang menyasar para siswa kelas 8A tersebut.

Lewat program edukasi pelecehan seksual ini, para pemateri mengajak siswa memahami pentingnya menjaga batasan saat bergaul dan mengenali ciri-ciri tindakan pelecehan. Tujuannya adalah mewujudkan lingkungan sekolah yang aman dan saling menghargai. Selain itu, mahasiswa mendorong para siswa agar berani mengambil sikap tegas saat mengalami atau melihat langsung tindakan yang tidak pantas.

Kepala SMP Islam Sultan Agung 4 Semarang, Ah. Solikul Hadi, menyambut baik dan mengapresiasi inisiatif mahasiswa USM dalam menjalankan kampanye edukatif ini. Ia menilai pihak sekolah memang perlu menanamkan pemahaman tentang pelecehan seksual kepada anak-anak sejak usia dini.

“Kami berharap, melalui kegiatan itu, siswa dapat lebih memahami bahwa pelecehan dapat terjadi kepada siapa saja. Penting untuk saling menghormati, menjaga batasan, dan berani melapor apabila mengalami atau melihat tindakan yang tidak baik,” ujarnya.

Ketua Pelaksana kegiatan, Anggie Putri Melani, menjelaskan bahwa kampanye ini membuka ruang belajar bersama agar siswa semakin peka terhadap perilaku yang berpotensi memicu ketidaknyamanan orang lain. “Peserta juga diajak untuk belajar secara santai, terbuka, tidak menghakimi agar lebih berani bersikap benar dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.

Dr. Yulianto Budi Setiawan selaku Dosen pengampu Mata Kuliah Komunikasi Gender dan Minoritas USM turut memberikan apresiasi atas kinerja mahasiswanya. “Kami mengajak siswa untuk lebih peduli terhadap keamanan diri dan lingkungan sekitar, serta berani melapor apabila mengalami atau menyaksikan tindakan yang mengarah pada pelecehan,” tuturnya.

Selama acara berlangsung, dua pemateri yaitu Aditya Alfarizki dan Muhammad Falevi Firgi Saputra memaparkan beragam bentuk pelecehan yang sering muncul dalam keseharian. Mereka mengedukasi siswa bahwa pelecehan bukan sekadar sentuhan fisik, melainkan juga mencakup candaan berlebihan, komentar seputar fisik (body shaming), catcalling, pesan tidak senonoh, sampai penyebaran foto tanpa izin.

Memasuki sesi selanjutnya, para pemateri membekali peserta dengan cara melindungi diri serta menumbuhkan keberanian untuk melapor. Mahasiswa memperkenalkan aplikasi LIBAS yang menyediakan fitur bantuan darurat, layanan hotline 110, dan fasilitas pelaporan awal agar siswa bisa mencari pertolongan dengan cepat dan aman.

LAINNYA