Berawal dari Garasi, Koperasi Kelurahan Merah Putih Banjarsari Kini Cetak Omzet Ratusan Juta

waktu baca 5 menit
Senin, 13 Jul 2026 13:44 32 Fajrul Amienurrahman Mahmud

NALARMEDIA.COM – Memulai perjalanannya dari sebuah garasi rumah, Koperasi Kelurahan Merah Putih (KKMP) Banjarsari, Kota Surakarta, kini sukses bertransformasi menjadi percontohan ideal bagi kebangkitan ekonomi kerakyatan di wilayah Jawa Tengah.

Sejak resmi beroperasi pada September 2025, koperasi ini berhasil mencetak omzet menakjubkan hingga menembus angka Rp300 juta hanya dalam enam bulan pertama tahun 2026. Pertumbuhan finansial ini juga sejalan dengan lonjakan jumlah anggota, yang awalnya hanya 32 orang kini melesat menjadi sekitar 130 anggota aktif.

Pengurus koperasi memamerkan pencapaian gemilang tersebut melalui ajang Gelar Produk Koperasi dan UMKM. Acara ini memeriahkan rangkaian Peringatan Hari Koperasi ke-79 Tingkat Provinsi Jawa Tengah di Stadion Manahan, Surakarta, pada Sabtu (11/7/2026). Mereka memajang beragam produk UMKM, hasil kerajinan tangan, hingga komoditas kebutuhan pokok untuk membuktikan bahwa koperasi telah mengambil peran nyata sebagai motor penggerak ekonomi warga.

Ketua KKMP Banjarsari, Budi Agung Setyowicoyo, menegaskan bahwa ia dan timnya membentuk entitas koperasi ini untuk menjawab kebutuhan dasar masyarakat. Secara bersamaan, mereka juga menargetkan penguatan kapasitas para pelaku UMKM di seputar kawasan Banjarsari.

“Koperasi kami berdiri dan bergerak untuk melayani masyarakat dalam penyediaan gerai sembako. Kemudian kita juga bekerja sama dengan UMKM di Kota Surakarta,” katanya.

Budi menjelaskan bahwa KKMP Banjarsari tidak sekadar menjajakan kebutuhan pokok sehari-hari. Koperasi ini berani mengambil peran strategis sebagai off taker (pembeli pasti) bagi produk-produk UMKM, sekaligus bertindak sebagai hub atau pusat distribusi sembako bagi masyarakat luas.

Menjalankan fungsinya sebagai off taker, koperasi secara aktif menyerap dan memasarkan langsung produk UMKM agar para pelaku usaha mendapatkan kepastian pasar. Sementara itu, sebagai hub distribusi, pengurus menggandeng mitra besar seperti Perum Bulog, ID Food, dan jaringan distributor lainnya. Kolaborasi ini bertujuan menjamin ketersediaan pasokan, memangkas rantai distribusi, dan menghadirkan harga yang jauh lebih kompetitif bagi konsumen.

“Kita berperan sebagai off taker dari Koperasi Merah Putih terhadap UMKM dan kita juga akan memerankan diri sebagai hub untuk produk-produk kebutuhan sembako bagi warga kita,” ujarnya.

Mengisi stan pameran, KKMP Banjarsari memboyong deretan produk UMKM andalan, mulai dari kain batik, blangkon, tenun ikat, batik ciprat, karya ecoprint, hingga aneka kerajinan tangan unik. Tidak ketinggalan, koperasi ini turut memasarkan beras SPHP, beras kualitas premium, serta ragam merek minyak goreng andalan warga.

Meski perjalanannya tergolong sangat seumur jagung, koperasi ini sukses mencatatkan grafik pertumbuhan yang melesat pesat. Pengurus sempat membukukan Sisa Hasil Usaha (SHU) perdana sebesar Rp2 juta pada tutup tahun 2025. Namun, mereka langsung tancap gas dan melambungkan omzet hingga menembus angka Rp300 juta sepanjang periode Januari hingga Juni 2026.

“Saya meyakini ke depan, di akhir tahun kita akan meningkat tajam terkait dengan pembukuan SHU-nya,” kata Budi.

Tren positif tersebut memicu gelombang penambahan anggota baru hingga menyentuh angka 130 orang. Pelaku UMKM mendominasi keanggotaan ini, meliputi barisan pedagang nasi goreng, penjual rice bowl, hingga para pengelola toko kelontong setempat.

Budi meyakini kehadiran koperasi ini justru menyuntikkan kekuatan baru bagi keberlangsungan usaha toko kelontong. Para pedagang kecil kini bisa mengandalkan koperasi sebagai pemasok utama barang dagangan dengan harga kulakan yang jauh lebih ekonomis.

Cerita menarik mewarnai perjalanan mereka. Seluruh aktivitas operasional koperasi ini ternyata bermula murni dari sebuah garasi rumah sang ketua. Seiring waktu, mereka memindahkan pusat kegiatan ke bangunan rumah dinas lurah yang kebetulan kosong. Para pengurus memegang teguh prinsip bahwa menebar manfaat nyata bagi masyarakat jauh lebih mendesak ketimbang harus berdiam diri menunggu berdirinya gedung permanen.

“Kami sepakat dengan pengurus dan seluruh anggota bahwa kita tidak akan menunggu gedungnya ada, karena masyarakat sudah menunggu kehadiran Koperasi Merah Putih,” ujarnya.

Kisah sukses KKMP Banjarsari ini merepresentasikan gambaran awal keberhasilan implementasi program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) yang saat ini tengah pemerintah genjot secara masif.

Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Jawa Tengah, Sumarno, menjelaskan bahwa program KDKMP ini mengambil peran krusial dalam skenario besar pemerintah. Pihaknya berupaya keras memperkukuh fondasi ekonomi kerakyatan dengan menjadikan koperasi sebagai ujung tombaknya.

“Pemerintah Republik Indonesia punya gawe yang cukup besar, bagaimana menumbuhkembangkan ekonomi kerakyatan dengan membangun Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP),” ucapnya saat memberikan sambutan pada Tasyakuran dan Pagelaran Seni Peringatan Hari Koperasi ke-79 Tingkat Provinsi Jateng di Stadion Manahan, Surakarta.

Demi menjamin keberlanjutan program strategis ini, Pemprov Jateng bahkan mengambil langkah inovatif. Mereka mulai mengintegrasikan kurikulum pendidikan perkoperasian langsung ke dalam sistem pembelajaran di bangku sekolah.

Lewat payung Program Insersi Pendidikan Perkoperasian, Jawa Tengah memantapkan diri sebagai provinsi pelopor. Pemerintah daerah sukses menerapkan pendidikan koperasi secara sistematis dan terstruktur dengan menyasar sekitar 6,38 juta peserta didik lintas jenjang, membentang dari tingkat SD/MI, SMP/MTs, SMA/SMK/MA, hingga bangku Sekolah Luar Biasa (SLB).

“Kita punya konsep untuk insersi pendidikan koperasi, karena apa? pemahaman terhadap konsep koperasi mungkin belum dipahami secara utuh,” ujarnya.

Sekda memaparkan bahwa Pemprov Jateng siap mengeksekusi program edukasi tersebut secara penuh pada jenjang pendidikan SMA, SMK, MA, dan SLB, sejalan dengan wewenang yang pemerintah provinsi miliki.

Melengkapi inisiatif tersebut, ia turut mengajak seluruh elemen pemerintah kabupaten dan kota agar merapatkan barisan. Mereka harus berkolaborasi mengimplementasikan kurikulum serupa pada tingkat SD dan SMP. Langkah kolektif ini akan menanamkan pemahaman komprehensif sejak usia dini, sekaligus membangun fondasi kokoh bagi penguatan KDKMP di masa depan.

“Sekali lagi dengan momentum peringatan ke-79 Hari Koperasi ini menjadi tonggak, mari kita bersama-sama berkolaborasi membangun Koperasi yang menjadi gawe besar dari Pemerintah Republik Indonesia,” ucap Sekda.

Sebagai catatan informasi, masyarakat Jawa Tengah saat ini telah sukses membentuk 8.523 KDKMP. Dari total tersebut, sebanyak 6.271 koperasi atau sekitar 73 persen sudah beroperasi secara penuh, sementara pemerintah telah merampungkan pembangunan 3.950 gedung koperasi fisik. Jaringan KDKMP di Jateng ini juga berhasil menghimpun modal raksasa senilai Rp34,21 miliar dan merangkul lebih dari 200 ribu anggota aktif.

Fajrul Amienurrahman Mahmud

LAINNYA