Perkuat Kesiapsiagaan Disabilitas, LINKK Semar Gelar Pelatihan dan Simulasi Bencana di Semarang NALARMEDIA.COM – Layanan Inklusi Kota Semarang (LINKK Semar) menggelar pelatihan mitigasi dan kesiapsiagaan bencana bagi penyandang disabilitas sebagai upaya meningkatkan kemampuan menghadapi potensi bencana di Kota Semarang.
Kegiatan tersebut dilaksanakan dengan menggandeng Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Semarang. Pelatihan ini menjadi langkah antisipatif mengingat tingginya potensi bencana yang kerap terjadi di wilayah tersebut.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Semarang, Endro Pudyo Martantono, menegaskan bahwa pemahaman mitigasi dan kesiapsiagaan sangat penting bagi seluruh masyarakat, termasuk penyandang disabilitas.
“Disabilitas dalam menghadapi bencana minimal bisa menyelamatkan dirinya secara mandiri sebelum bantuan datang,” ujarnya.
Selain pemberian materi, kegiatan ini juga dilengkapi dengan simulasi bencana yang melibatkan peserta disabilitas secara langsung. Dalam simulasi tersebut, peserta diberikan pemahaman terkait langkah-langkah yang harus dilakukan saat terjadi bencana.
Ketua LINKK Semar, Fita, menjelaskan bahwa organisasinya merupakan wadah kolaboratif yang bertujuan menciptakan sistem penanggulangan bencana yang inklusif, setara, dan berkeadilan, khususnya bagi penyandang disabilitas.
LINKK Semar juga berperan sebagai jembatan antara pemerintah, komunitas disabilitas, relawan, dan masyarakat umum dalam upaya mitigasi, kesiapsiagaan, tanggap darurat, hingga pemulihan pascabencana yang ramah disabilitas.
Sementara itu, Ketua Bidang Kajian dan Penanggulangan Bencana LINKK Semar, Wishnu Pratomo, memberikan pemaparan mengenai jenis-jenis bencana, tanda-tanda yang perlu diwaspadai, serta langkah penanganan yang disesuaikan dengan ragam disabilitas.
Pada hari kedua, peserta mengikuti simulasi bencana dengan pembagian peran menjadi beberapa kelompok, di antaranya sebagai korban, tim evakuasi dan pengungsian, pusat data dan informasi, serta dapur umum. Simulasi dilakukan secara menyeluruh untuk memberikan gambaran nyata situasi kebencanaan.
Peserta juga dilatih bagaimana mengevakuasi penyandang disabilitas fisik dan netra, termasuk memahami kendala yang dihadapi dalam proses penyelamatan. Setelah evakuasi, tim pusat data melakukan pendataan korban, sementara tim dapur umum menyiapkan logistik untuk pengungsi.
Di akhir kegiatan, dilakukan evaluasi bersama untuk mengukur efektivitas pelatihan sekaligus menampung masukan dari peserta.
Kegiatan ini turut melibatkan pendamping disabilitas yang dinilai memiliki peran penting dalam membantu proses evakuasi dan penanganan saat bencana.
Ke depan, pelatihan serupa direncanakan akan dilakukan secara berkala guna meningkatkan kesiapsiagaan penyandang disabilitas, serta meminimalkan risiko korban jiwa saat terjadi bencana. (*)