JATENGEKSPOS.COM– Pemanfaatan panel surya mulai menjadi solusi untuk menekan tingginya biaya energi dalam usaha budidaya udang. Berdasarkan hasil uji coba awal, teknologi energi terbarukan tersebut mampu mengurangi konsumsi listrik dari jaringan PLN hingga sekitar 42–50 persen.
Pengembangan panel surya untuk tambak dilakukan PT Sustainability & Resilience (su-re.co) bersama perusahaan teknologi akuakultur Crustea melalui program Aquaculture for Climate Resilience.
Program ini mendorong penggunaan energi bersih dan teknologi ramah lingkungan untuk meningkatkan efisiensi operasional tambak sekaligus memperkuat ketahanan petambak terhadap perubahan iklim.
Peneliti PT Sustainability & Resilience (su-re.co), Naafi Lathifah, mengatakan hasil awal penerapan panel surya menunjukkan peluang besar untuk mengurangi ketergantungan petambak terhadap energi listrik konvensional.
“Penggunaan panel surya mampu menghemat konsumsi listrik PLN sekitar 42 persen hingga 50 persen,” ujar Naafi dalam keterangan pers, Sabtu (1/8/2026).
Teknologi tersebut telah diuji coba di kawasan Gianyar, Bali. Sistem yang diterapkan menggunakan panel surya hybrid, sehingga tetap terhubung dengan jaringan listrik PLN untuk menjaga kestabilan pasokan energi.
Energi dari panel surya digunakan untuk mendukung operasional aerator tambak selama sekitar 10 jam setiap hari.
Aerator menjadi salah satu perangkat penting dalam budidaya udang karena berfungsi menjaga ketersediaan oksigen di dalam air. Pengoperasian aerator secara terus-menerus juga membuat kebutuhan listrik menjadi salah satu komponen biaya yang cukup besar bagi petambak.
Meski dampak terhadap peningkatan produksi belum terlihat signifikan karena teknologi masih diterapkan pada satu unit aerator, hasil penghematan energi dinilai cukup menjanjikan.
Penerapan teknologi panel surya selanjutnya akan diperluas ke Nusa Tenggara Barat (NTB). Program tersebut menargetkan penerapan di sedikitnya 10 lokasi budidaya udang.
Selain panel surya, program Aquaculture for Climate Resilience juga memperkenalkan Eco-Aerator bertenaga surya dan sistem pemantauan kualitas air berbasis Internet of Things (IoT).
Teknologi tersebut dirancang untuk membantu petambak memantau kondisi tambak secara lebih efisien sekaligus mengoptimalkan penggunaan energi.
Program ini ditargetkan melibatkan sedikitnya 250 petambak udang dan penyuluh perikanan di Lombok dan Sumbawa.
Melalui pelatihan dan pendampingan, petambak diharapkan mampu menerapkan teknologi budidaya yang lebih hemat energi, adaptif terhadap perubahan iklim, serta berorientasi pada keberlanjutan.
Pengembangan teknologi akuakultur berbasis energi terbarukan juga menjadi bagian dari upaya memperkuat daya saing produk perikanan Indonesia.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Pengolahan dan Pemasaran Produk Perikanan Indonesia (AP5I), Saut P. Hutagalung, menilai penerapan budidaya berkelanjutan dapat meningkatkan nilai tambah dan daya saing produk perikanan Indonesia di pasar ekspor.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI), Romi Novriadi, mengatakan akses terhadap energi dan inovasi teknologi menjadi kebutuhan penting bagi petambak.
Selain biaya pakan, kebutuhan listrik menjadi salah satu faktor yang memengaruhi besarnya biaya produksi budidaya udang.
Data Direktorat Jenderal Perikanan Budi Daya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menunjukkan luas tambak di Indonesia mencapai sekitar 300 ribu hektare.
Namun, hanya sekitar 3 persen tambak yang dikelola secara intensif. Sebanyak 15 persen menggunakan sistem semiintensif, sedangkan sebagian besar lainnya masih menerapkan pola budidaya tradisional.
Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya peningkatan kapasitas petambak serta perluasan akses terhadap teknologi modern dan energi terbarukan.
Direktur Jenderal Pembangunan Daerah Tertinggal Kemendes PDT, Samsul Widodo, mengatakan pengembangan energi terbarukan di sektor akuakultur dapat didukung melalui dana desa maupun kerja sama dengan sektor swasta.
Dukungan juga dapat dilakukan melalui program tanggung jawab sosial dan lingkungan perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR).
Pemanfaatan panel surya diharapkan tidak hanya menekan biaya listrik tambak, tetapi juga mengurangi emisi, meningkatkan efisiensi produksi, serta memperkuat daya saing budidaya udang Indonesia.
Dengan penerapan teknologi yang lebih luas, panel surya berpotensi menjadi salah satu solusi untuk mendorong transformasi tambak tradisional menuju sistem budidaya yang modern, hemat energi, dan berkelanjutan. (**)