Raih Budai Award 2026, Wagub Taj Yasin Buktikan Keteladanan Jadi Fondasi Kepemimpinan

waktu baca 4 menit
Selasa, 25 Agu 2026 10:43 20 Fajrul Amienurrahman Mahmud

NALARMEDIA.COM – Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang menganugerahkan penghargaan Budaya Akademik Islami (Budai) Award 2026 kepada Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, pada Senin (24/8/2026). Pihak kampus mendaulat Taj Yasin sebagai pemenang kategori Tokoh Pemimpin Muda Inspiratif karena ia sukses mewujudkan nilai-nilai luhur Budai, yakni Birrul Walidain (bakti kepada orang tua) dan Takrimul Aulad (memuliakan anak).

Alih-alih menganggap trofi tersebut sebagai pencapaian tunggal, Taj Yasin justru mendedikasikannya sebagai buah dari kerja keras bersama. Ia menyadari bahwa seluruh perjalanan pengabdiannya selama ini sangat bergantung pada dukungan penuh dari berbagai pihak, terutama keluarga tercinta.

“Di belakang saya banyak orang yang mendampingi saya, salah satunya adalah istri saya,” kata Taj Yasin.

Ia pun melontarkan apresiasi tinggi kepada Unissula karena kampus ini terus konsisten menghargai para tokoh yang mampu menebarkan keteladanan dalam ranah akademik, kehidupan berbangsa, hingga interaksi bermasyarakat.

Tokoh yang akrab dengan sapaan Gus Yasin ini memandang penghargaan Budai Award sebagai alarm pengingat agar ia terus merawat nilai-nilai warisan para pendahulu. Ia memosisikan deretan tokoh penerima Budai Award pada tahun-tahun sebelumnya sebagai mata rantai keteladanan yang wajib ia teruskan.

“Kami mengikuti jejak-jejak beliau, melanjutkan apa yang sudah dipondasikan oleh beliau-beliau untuk membangun Jawa Tengah, terkhusus di dalam bidang keagamaan,” ujarnya.

Gus Yasin meyakini bahwa pemerintah tidak bisa memisahkan pembangunan sektor keagamaan dari agenda pembangunan sumber daya manusia (SDM). Ia mendorong dunia pendidikan agar menyelaraskan kemampuan intelektual akademis dengan pembentukan karakter serta penanaman nilai-nilai agama.

Lebih jauh, Wagub menyoroti pentingnya penerapan prinsip rahmatan lil alamin (rahmat bagi semesta alam) dalam kehidupan bermasyarakat. Ia menegaskan bahwa pendidikan agama seharusnya memampukan seseorang untuk mengayomi dan merangkul semua golongan, bukan malah memicu perpecahan atau meninggalkan kelompok lain.

Oleh karena itu, Gus Yasin menolak menjadikan penghargaan ini sekadar sebagai piala pajangan. Ia justru menggunakannya sebagai cambuk penyemangat untuk membenahi segala kekurangan sekaligus melipatgandakan kualitas pengabdiannya kepada masyarakat luas.

Dalam kesempatan emas itu, Wagub turut menantang perguruan tinggi untuk lebih aktif menerjunkan diri dalam program pembangunan daerah. Ia secara terbuka mengakui bahwa pemerintah akan kewalahan jika harus mengurai seluruh benang kusut permasalahan di Jawa Tengah sendirian.

“Kami juga akan merangkul semuanya untuk menjadi bagian pembangunan, dan penanganan permasalahan yang ada di Jawa Tengah,” katanya.

Sementara itu, Rektor Unissula, Gunarto, menegaskan bahwa kampus tidak memberikan Budai Award berdasarkan menterengnya jabatan atau tingginya popularitas kandidat. Ia menggarisbawahi bahwa penghargaan ini murni lahir sebagai bentuk penghormatan atas keteladanan tokoh yang mampu menginspirasi generasi penerus bangsa.

Menghadapi krisis kepemimpinan global saat ini, Gunarto memastikan Unissula akan terus berjuang mencetak generasi berkarakter baja melalui penanaman budaya akademik yang islami.

“Karakter unggul tidak sekadar diajarkan di ruang-ruang kuliah dan laboratorium, tetapi dilahirkan melalui kehidupan nyata di kebangsaan dan masyarakat,” ujar Gunarto.

Gunarto menilai Taj Yasin sangat pantas menggenggam trofi tersebut karena sang Wagub sukses merepresentasikan keteladanan Birrul Walidain dan Takrimul Aulad. Gus Yasin terbukti mampu memikul estafet perjuangan mendiang ayahnya, KH Maimoen Zubair (Mbah Moen).

Menurut Gunarto, Taj Yasin sangat setia mengamalkan wasiat terakhir sang ayah sebelum berpulang. Ia terus menjaga eksistensi pesantren, melindungi kedaulatan negara, serta mengawal jalannya pemerintahan lewat kerja-kerja nyata.

Refleksi nilai Takrimul Aulad dalam diri Taj Yasin, lanjut Gunarto, tampak jelas dari besarnya kepedulian Wagub terhadap nasib pendidikan para santri. Taj Yasin aktif mencarikan akses beasiswa pendidikan tinggi bagi kaum santri, baik di kampus dalam negeri maupun mancanegara.

Gunarto juga memuji rekam jejak pendidikan Taj Yasin yang sukses meramu ilmu pesantren dengan pendidikan umum hingga berhasil menembus bangku kuliah di Universitas Damaskus. Pencapaian ini membuktikan bahwa generasi muda muslim mampu merengkuh wawasan global tanpa harus tercerabut dari akar tradisi keislamannya.

Menilik aspek kepemimpinan, Taj Yasin memiliki portofolio yang sangat gemilang. Ia telah merintis karir mulai dari memimpin organisasi kepemudaan, melenggang sebagai anggota DPRD Jawa Tengah pada usia muda 31 tahun, hingga sukses memenangkan mandat sebagai Wakil Gubernur Jawa Tengah.

Kebijakan-kebijakannya pun langsung menyentuh denyut nadi masyarakat bawah. Kontribusi nyatanya mencakup program percepatan sertifikasi halal bagi produk UMKM, penyaluran insentif bagi guru keagamaan dan tenaga pendidik nonformal, pemberdayaan ekonomi pesantren, hingga optimalisasi dana zakat ASN untuk membangun hunian sehat bagi keluarga prasejahtera.

“Atas dasar rekam jejak dan keteladanan tersebut, Unissula dengan penuh rasa hormat menganugerahkan Budai Award 2026 kategori Tokoh Pemimpin Muda Inspiratif kepada Taj Yasin Maimoen,” kata Gunarto.

Momentum penganugerahan ini secara otomatis menyejajarkan nama Taj Yasin dengan deretan tokoh bangsa penerima Budai Award terdahulu. Ia kini bersanding dengan nama-nama besar seperti Buya Hamka, Jusuf Kalla, Mahfud MD, Muhammad Nuh, Imam Suprayogo, Ahmad Daroji, Abdul Jamil, hingga ayahandanya sendiri, KH Maimoen Zubair.

Fajrul Amienurrahman Mahmud

LAINNYA