Jateng Petakan Wilayah Rawan Kekeringan untuk Pertahankan Status Lumbung Pangan Nasional

waktu baca 3 menit
Selasa, 2 Jun 2026 15:29 29 Fajrul Amienurrahman Mahmud

NALARMEDIA.COM – Gubernur Jawa Tengah (Jateng), Ahmad Luthfi, mengajak seluruh sektor untuk terus bekerja sama mempertahankan status provinsi ini sebagai lumbung pangan nasional.

Ahmad Luthfi menyampaikan ajakan tersebut dalam acara Rembug Pembangunan Jateng 2026 Wilayah Solo Raya yang berlangsung di Pendopo Kabupaten Boyolali pada Selasa, 2 Juni 2026.

“Jawa Tengah tetap menjadi lumbung pangan nasional. Tahun 2025 kita sudah menghasilkan 9,1 juta ton gabah kering, dari jumlah itu 15,6 persen untuk kebutuhan nasional,” kata Luthfi.

Luthfi menilai pemerintah provinsi, kabupaten atau kota, beserta forkopimda wajib menjaga capaian penting ini secara bersama-sama. Apalagi, banyak daerah kini mulai bersiap menghadapi datangnya musim kemarau. Karena itu, Luthfi menginstruksikan pemerintah kabupaten dan kota untuk segera memetakan wilayah yang rawan kekeringan, mencari titik sumber air, menghitung kebutuhan irigasi, dan menyiapkan infrastruktur penunjang pertanian. Luthfi juga memastikan pihaknya sudah berkoordinasi dengan TNI untuk melaksanakan program pipanisasi dan sumurisasi.

“Terkait embung dan irigasi, saya minta TNI ikut memetakan daerah-daerah mana yang akan menjadi intervensi,” ujarnya.

Selain itu, Luthfi menjelaskan pembagian tugas antara TNI dan Polri dalam memitigasi bencana kekeringan. Pemerintah mengarahkan TNI untuk membantu penanganan sumber air, sumurisasi, dan pipanisasi, sementara Polri akan mendukung kelancaran distribusi air bersih menggunakan kendaraan operasional mereka.

Gubernur Jateng ini juga melarang para petani menggunakan metode berbahaya, seperti setrum listrik, untuk mengendalikan hama tikus. Luthfi menekankan bahwa semua pihak harus mengutamakan keselamatan petani saat berupaya menjaga produktivitas pangan.

Terkait masalah gangguan kera di area pertanian, Luthfi melarang keras tindakan pembunuhan satwa tersebut. Sebagai solusinya, Pemprov Jateng segera mengirimkan surat kepada Menteri Kehutanan guna meminta tambahan kuota tangkap serta bantuan pengamanan satwa.

Pada kesempatan yang sama, para bupati dan wali kota di wilayah Solo Raya menyatakan dukungan penuh terhadap langkah Pemprov Jateng dalam mengamankan ketahanan pangan di wilayah masing-masing.

Bupati Sragen, Sigit Pamungkas, melaporkan bahwa kondisi ketahanan pangan di daerahnya tergolong aman. Sigit memastikan Kabupaten Sragen masih mencatatkan surplus produksi beras yang melebihi total kebutuhan masyarakat lokal. Meskipun demikian, Sigit mengharapkan pemerintah memberikan perhatian lebih kepada daerah-daerah yang mengandalkan sektor pertanian.

“Karena itu, mohon ada insentif khusus untuk daerah-daerah yang menjadi lumbung pangan,” kata Sigit.

Sementara itu, Bupati Wonogiri, Setyo Sukarno, menilai daerahnya sangat membutuhkan pembangunan embung dan peningkatan jaringan irigasi. Langkah ini penting untuk memperkuat fungsi lahan pertanian demi menyokong ketahanan pangan daerah.

Setyo mengungkapkan bahwa Pemerintah Kabupaten Wonogiri sedang menjalankan program pembangunan 1.000 sumur pantek selama lima tahun ke depan. Pada tahun pertama, pemerintah daerah sudah berhasil membangun sekitar 293 sumur dan akan menambah 253 sumur lagi pada tahun berikutnya.

Bupati Boyolali, Agus Irawan, turut menyuarakan usulan penguatan infrastruktur irigasi. Mengingat Boyolali memiliki potensi besar sebagai sentra sayuran di lereng Merapi-Merbabu, Agus meminta dukungan penuh untuk memperbaiki irigasi supaya lahan pertanian warga menjadi lebih produktif.

Agus memaparkan bahwa beberapa lahan pertanian di Boyolali saat ini hanya mampu panen satu sampai dua kali dalam setahun. Lewat dukungan perbaikan fasilitas irigasi, Agus berharap produktivitas lahan-lahan tersebut dapat meningkat secara signifikan.

Di luar masalah irigasi, Agus juga mengangkat isu gangguan kera yang sering melanda area pertanian di sekitar Merapi-Merbabu. Kawanan satwa liar tersebut kerap turun ke ladang warga dan merusak berbagai tanaman sayuran.

Senada dengan pimpinan daerah lainnya, Wakil Bupati Sukoharjo, Eko Sapto, memastikan ketersediaan pangan di wilayahnya sangat aman. Eko melaporkan bahwa Sukoharjo berhasil mencetak surplus beras hingga 114 ribu ton pada tahun 2025, sekaligus menyimpan cadangan beras daerah sebanyak 57 ribu ton serta cadangan di Bulog sekitar 3.500 ton.

Eko juga memaparkan langkah Sukoharjo yang sudah menyiapkan strategi mitigasi untuk menghadapi ancaman badai El Nino kecil. Sukoharjo merealisasikan hal ini melalui koordinasi intensif dengan Dinas Pertanian Provinsi Jawa Tengah maupun Kementerian Pertanian.

Fajrul Amienurrahman Mahmud

LAINNYA