Kenalkan Budaya Semarang, Wali Kota Agustina Wilujeng Suguhkan Tradisi Dugderan untuk Kafilah MTQ Nasional

waktu baca 3 menit
Selasa, 22 Sep 2026 01:31 0 Fajrul Amienurrahman Mahmud

NALARMEDIA.COM – Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, menyuguhkan kehangatan budaya lokal dengan mengenalkan tradisi khas Dugderan kepada ribuan kafilah dan tamu Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional XXXI Tahun 2026. Lewat gelaran bertajuk Nostalgia Dugderan di kawasan Alun-Alun Masjid Agung Kauman pada Jumat (18/9/2026), Pemerintah Kota Semarang memberi ruang bagi para tamu lintas daerah untuk menikmati kebudayaan Kota Atlas di luar panggung kompetisi.

Bagi warga Kota Semarang, tradisi Dugderan selalu identik dengan momen sukacita menyambut bulan suci Ramadan. Suara dentum bedug dan meriam yang melahirkan nama Dugderan, pasar rakyat yang riuh, lezatnya kuliner lokal, hingga deretan pertunjukan seni di kawasan Kauman dan Pasar Johar senantiasa melekat dalam memori kolektif masyarakat.

Pemkot Semarang menghadirkan kembali reka ulang memori tersebut melalui rangkaian acara Nostalgia Dugderan yang membentang sejak 13 hingga 18 September 2026. Ajang kebudayaan ini mencapai puncaknya saat Kirab Nostalgia Dugderan melintas meriah pada Jumat sore.

Agustina menegaskan bahwa pementasan Nostalgia Dugderan bertujuan menyapa para kafilah dengan tradisi yang berurat akar dalam kehidupan masyarakat Semarang.

“Dugderan ini adalah salah satu tradisi yang sangat dekat dengan kehidupan warga Kota Semarang. Kami ingin para kafilah dan tamu MTQ yang datang dari seluruh Indonesia merasakan kehangatan dan mengenal cerita tradisi di kota ini,” ujar Agustina.

Ia menambahkan bahwa penyelenggaraan agenda kebudayaan pada September ini sama sekali tidak menggeser tradisi Dugderan utama menjelang Ramadan. Pemkot Semarang sengaja menghadirkan pementasan khusus ini untuk menyuguhkan cerita dan sejarah tradisi Semarang kepada para tamu yang sedang singgah.

“Supaya para kafilah tidak hanya mengikuti rangkaian kompetisi, tetapi juga membawa pulang kenangan indah tentang cerita, tradisi, dan kehidupan masyarakat Kota Semarang,” katanya.

Rangkaian acara turut menyajikan Bazaar Expo Kauman Kampung Qur’an yang menyedot perhatian warga sejak 13 September. Para pengunjung dan kafilah memadati area bazaar untuk menikmati pertunjukan seni sembari mencicipi kuliner legendaris dan berburu produk lokal, mulai dari kue putu, donat, martabak, kerajinan gerabah, hingga mainan tradisional kapal othok-othok.

Momen puncak kirab menyedot antusiasme publik dengan melibatkan 773 peserta dari 20 kelompok barisan. Para pelajar, kelompok keagamaan, komunitas warga, hingga sanggar seni dan budaya menyatu dalam satu deret barisan parade.

Berbagai kelompok memamerkan atraksi menarik, mulai dari Drumband SD Islam Sultan Agung, Pasukan Merah Putih siswa SMPN 38, Pasukan Bregodo, penari Dugder, Denok-Kenang, Manten Kaji, pertunjukan Ngesti Pandowo, lantunan Rebana Pondok Tahfidz Al-Qur’an Masjid Kauman, hingga iring-iringan kesenian daerah.

Dalam parade kebudayaan tersebut, Agustina tampil memimpin peragaan tradisi sebagai Kanjeng Raden Mas Tumenggung (KRMAT) Purbaningrum. Ia berjalan berdampingan dengan para ulama Masjid Agung Kauman serta perwakilan elemen ARWANA (Arab, Jawa, dan Tionghoa). Penampilan berbusana khas ini mengangkat keberagaman Kota Semarang dengan simbol ikonik Dugderan, yakni Warak Ngendog.

“Tradisi ini menunjukkan bahwa Kota Semarang tumbuh dari keberagaman yang saling menghormati. Semangat kebersamaan dan keterbukaan inilah yang kami persembahkan untuk menyambut seluruh tamu MTQ Nasional,” jelasnya.

Rombongan kirab mengambil titik start dari halaman Alun-Alun Masjid Agung Kauman, menyusuri Jalan Kolonel Sugiono dan Jalan Imam Bonjol, memutar di kawasan bersejarah titik nol Kota Lama Semarang, hingga akhirnya finish kembali di kawasan Kauman.

Usai parade kirab berakhir, panitia membagikan kue khas Ganjel Rel kepada warga dan para kafilah yang memadati lokasi. Alunan musik religi turut menghidupkan suasana sore di kawasan Alun-Alun Masjid Agung Kauman.

Rangkaian acara ini memberikan kesan mendalam bagi para peserta MTQ. Di tengah padatnya jadwal lomba, para kafilah dapat menyaksikan secara langsung kekayaan tradisi, kesenian, kuliner khas, serta kerukunan masyarakat Kota Semarang. Agustina berharap kenangan manis ini menjadi oleh-oleh paling berkesan saat para kafilah kembali ke daerah asal.

“Sajian kue Ganjel Rel dan seluruh rangkaian acara sore ini kami persembahkan untuk seluruh kafilah. Semoga kebersamaan ini menjadi pengalaman yang menyenangkan, dan membawa cerita hangat tentang Kota Semarang pulang ke daerah masing-masing,” tutup Agustina.

Fajrul Amienurrahman Mahmud

LAINNYA