Pembukaan MTQ Nasional XXXI di Semarang.NALARMEDIA.COM – Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) telah mengakar kuat sebagai tradisi keagamaan bertaraf nasional di Indonesia. Menariknya, ajang ini tidak lahir begitu saja sebagai program instan rancangan pemerintah. Para qari dan tokoh masyarakat menginisiasi tradisi ini dari bawah, sebelum akhirnya berevolusi menjadi kompetisi raksasa yang menguji kemampuan umat Islam dalam membaca, menghafal, menafsirkan, hingga mendakwahkan Al-Qur’an.
Kini, tradisi tersebut telah memasuki usia penyelenggaraan ke-31 yang berlangsung meriah di Kota Semarang, Jawa Tengah, pada 11 hingga 20 September 2026.
Kita tidak bisa melepaskan sejarah MTQ dari tradisi membaca Al-Qur’an yang telah hidup subur di tengah masyarakat sejak era 1940-an. Nahdlatul Ulama (NU) turut memegang peran penting pada periode tersebut dengan mendirikan Jam’iyyatul Qurra wal Huffadz.
Memasuki dekade 1950-an, para qari mulai mempopulerkan tradisi membaca Al-Qur’an menggunakan seni suara, salah satunya berpusat di Masjid Sunan Ampel, Surabaya.
Mantan Menteri Agama periode 2014–2019, Lukman Hakim Saifuddin, pernah membeberkan benang merah sejarah ini saat membuka MTQ Nasional ke-26 di Mataram pada 2016 silam. Lukman menyebut inisiatif para qari membentuk majelis tilawah tersebut sangat berkaitan erat dengan metode dakwah warisan Wali Songo demi menanamkan kecintaan umat terhadap Al-Qur’an.
Melihat antusiasme publik yang membludak, Kiai Bashori Alwi, salah satu tokoh penggagas majelis, akhirnya mengusulkan kepada pemerintah agar kegiatan ini bertransformasi menjadi kompetisi resmi yang lebih terorganisasi.
Presiden Soekarno menyambut hangat usulan tersebut. Sang Proklamator langsung mengambil langkah berani dengan menggelar musabaqah bertaraf internasional bertepatan dengan Konferensi Islam Asia Afrika di Bandung pada 1965. Lukman Hakim Saifuddin menganggap momen ini sebagai tonggak sejarah terpenting bagi perjalanan MTQ di Tanah Air.
Pemerintah kemudian mengirim 11 qari Indonesia untuk melakukan muhibah (kunjungan persahabatan) ke berbagai negara. Menyadari besarnya manfaat syiar dari kegiatan ini, negara akhirnya meresmikan MTQ sebagai agenda nasional.
Kota Makassar, Sulawesi Selatan, mendapat kehormatan mencetak sejarah sebagai tuan rumah MTQ Nasional perdana pada 1968. Kompetisi yang saat itu masih terbatas pada cabang tilawah dewasa ini sukses melahirkan qari legendaris seperti Ahmad Syahid dari Jawa Barat dan Muhammadong dari Sulawesi Selatan.
Pada masa-masa awal, pemerintah memutar roda kompetisi MTQ Nasional setiap tahun dari 1968 hingga 1981. Pascapenyelenggaraan di Aceh pada 1981, pemerintah merombak format tersebut menjadi agenda dua tahunan.
Kementerian Agama lantas merancang sistem seleksi berjenjang, menyaring peserta terbaik mulai dari tingkat desa, kecamatan, kabupaten, hingga provinsi. Pemerintah bahkan sempat memecah konsentrasi cabang perlombaan dengan menghadirkan Seleksi Tilawatil Qur’an (STQ).
MTQ Resmi Kembali Jadi Agenda Tahunan
Kini, sistem penyelenggaraan dua tahunan tersebut resmi berakhir. Menteri Agama, Nasaruddin Umar, memastikan pemerintah menghapus ajang STQ dan mengembalikan frekuensi MTQ Nasional menjadi agenda rutin setiap tahun.
“Setiap tahun akan dilaksanakan MTQ. Sebab, energi yang dikeluarkan dalam penyelenggaraan STQ relatif sama dengan MTQ. Karena itu, sekalian saja kita ubah menjadi MTQ,” ujar Nasaruddin Umar, Jumat (11/9/2026), seusai menghadiri Malam Ta’aruf MTQ Nasional XXXI di Semarang.
Nasaruddin mengambil keputusan strategis ini demi memangkas daftar tunggu provinsi yang mengantre giliran menjadi tuan rumah. Jawa Tengah menjadi contoh nyata lamanya antrean ini, di mana provinsi tersebut harus menanti selama 47 tahun untuk kembali menggelar MTQ Nasional pada 2026.
Sang menteri kembali menegaskan kebijakan mutlak tersebut saat membuka acara di Lapangan Pancasila, Semarang, keesokan harinya.
“Kami sampaikan kepada Bapak/Ibu sekalian, bahwa kita tidak mengadakan lagi STQ. Karena itu demi untuk syiar, maka Kementerian Agama memutuskan bahwa setiap tahun kita tidak melakukan STQ, tapi yang kita lakukan adalah MTQ,” tegasnya.
Seiring berjalannya waktu, panitia terus melebarkan sayap kompetisi. MTQ modern tidak lagi membatasi diri pada seni olah vokal, melainkan telah merambah ke cabang hafalan, pemahaman tafsir, seni kaligrafi (Khath), syarahan, hingga karya tulis ilmiah Al-Qur’an.
Menyikapi perkembangan pesat ini, Lukman Hakim Saifuddin memandang MTQ telah naik kelas.
“MTQN bukan hanya kegiatan yang menampilkan seni suara saja. Namun menjadi forum ilmiah bagaimana menafsir, menalar, dan menarasikan Al-Quran,” ujarnya.
Pergelaran MTQ Nasional XXXI di Semarang turut menorehkan sejarah baru yang sangat inklusif. Untuk pertama kalinya, panitia memfasilitasi komunitas Tuli Muslim dengan menggelar Eksibisi Disabilitas Tuli pada 14–16 September 2026. Sebanyak 28 peserta perwakilan 14 komunitas bertanding unjuk kemampuan dalam golongan Tilawah dan Kitabah Al-Qur’an Isyarat.
Merespons terobosan ini, Nasaruddin Umar meyakini MTQ 2026 memegang peranan krusial untuk membumikan Al-Qur’an Isyarat di tengah masyarakat.
“Al Quran adalah tuntunan bagi seluruh umat. Kita harus memastikan saudara-saudara kita penyandang disabilitas juga memiliki ruang dan akses yang semakin luas untuk mempelajari, memahami, dan mencintai Al Quran,” kata Nasaruddin.
Rekam Jejak Tuan Rumah MTQ Nasional (1968–2026)
Selama lebih dari setengah abad, estafet tuan rumah MTQ Nasional terus berpindah memutari bumi Nusantara. Berikut adalah daftar sejarah kota penyelenggara sejak awal berdiri:
1968 – Makassar, Sulawesi Selatan
1969 – Bandung, Jawa Barat
1970 – Banjarmasin, Kalimantan Selatan
1971 – Medan, Sumatera Utara
1972 – Jakarta, DKI Jakarta
1973 – Mataram, Nusa Tenggara Barat
1974 – Surabaya, Jawa Timur
1975 – Palembang, Sumatera Selatan
1976 – Samarinda, Kalimantan Timur
1977 – Manado, Sulawesi Utara
1979 – Semarang, Jawa Tengah
1981 – Banda Aceh, Aceh
1983 – Padang, Sumatera Barat
1985 – Pontianak, Kalimantan Barat
1988 – Bandar Lampung, Lampung
1991 – Yogyakarta, DI Yogyakarta
1994 – Pekanbaru, Riau
1997 – Jambi, Jambi
2000 – Palu, Sulawesi Tengah
2003 – Palangkaraya, Kalimantan Tengah
2006 – Kendari, Sulawesi Tenggara
2008 – Serang, Banten
2010 – Bengkulu, Bengkulu
2012 – Ambon, Maluku
2014 – Batam, Kepulauan Riau
2016 – Mataram, Nusa Tenggara Barat
2018 – Medan-Deli Serdang, Sumatera Utara
2020 – Padang Pariaman, Sumatera Barat
2022 – Banjarbaru, Banjar, Banjarmasin, Kalimantan Selatan
2024 – Samarinda, Kalimantan Timur
2026 – Semarang, Jawa Tengah
Penyelenggaraan ke-31 di Semarang ini sukses mengunci babak baru bagi peradaban MTQ. Keputusan Menag untuk kembali merutinkan MTQ sebagai agenda tahunan dan pembukaan akses bagi kafilah disabilitas membuktikan bahwa tradisi ini terus melangkah maju merangkul zaman, tanpa pernah mencabut akar sejarahnya sebagai wadah syiar umat Islam di Indonesia.