Upaya Jateng Kembangkan Wisata Ramah Muslim untuk Menarik Wisatawan Mancanegara

waktu baca 4 menit
Selasa, 2 Jun 2026 22:00 15 Fajrul Amienurrahman Mahmud

NALARMEDIA.COM – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jateng saat ini tengah fokus mematangkan pariwisata berkelanjutan dan ekonomi syariah. Kedua sektor baru ini akan menjadi motor penggerak utama pertumbuhan ekonomi daerah pada tahun 2027 mendatang.

Sebagai langkah awal, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menginstruksikan seluruh pemerintah kabupaten dan kota yang mengelola destinasi wisata religi untuk memperkuat penjenamaan atau branding. Strategi ini bertujuan untuk meningkatkan daya tarik tempat wisata sehingga mampu mendatangkan lebih banyak pengunjung.

“Wisata ramah muslim bisa dikembangkan lebih luas, tidak hanya situs sejarah terkait dengan makam. Ada keraton yang terkait dengan petilasan muslim. Kemudian di situ juga ada kasunanan. Tolong nanti di-branding,” kata Luthfi ketika memberikan arahan dalam acara Rembug Pembangunan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2026 wilayah Solo Raya, di Pendopo Kabupaten Boyolali pada Selasa, 2 Juni 2026.

Luthfi menjelaskan bahwa pengembangan konsep pariwisata ini membidik pasar yang jauh lebih luas, mulai dari wisatawan domestik hingga turis asing. Pemprov Jateng secara khusus menargetkan wisatawan dari negara-negara kawasan Timur Tengah dan rumpun Melayu agar mau menghabiskan waktu liburan mereka di berbagai destinasi wisata ramah muslim Jawa Tengah.

Oleh karena itu, setiap kepala daerah wajib mempersiapkan infrastruktur pendukung secara matang demi mensukseskan program ini. “Wisata ramah muslim itu bukan berarti masakannya saja yang halal. Di sana harus disiapkan tempat ibadah bagaimana, paket wisata bagaimana, dan lain sebagainya,” ucap Luthfi menegaskan.

Sejalan dengan arahan Gubernur, para kepala daerah di wilayah Solo Raya menyatakan kesiapan mereka untuk mendukung penuh tema pembangunan ekonomi Provinsi Jawa Tengah tahun 2027 tersebut.

Bupati Boyolali Agus Irawan menunjukkan komitmennya dengan berencana memperkuat potensi desa wisata, usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), serta sektor ekonomi kreatif. Ia juga akan terus mendorong kemajuan industri halal sekaligus memastikan iklim pariwisata di wilayahnya berjalan secara berkelanjutan.

Agus menilai Solo Raya memiliki posisi tawar sebagai kawasan strategis bagi pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah. Oleh sebab itu, pemerintah antardaerah perlu terus meningkatkan konektivitas, membuka pintu investasi, serta menjalankan skema pembangunan yang terintegrasi.

“Boyolali siap menjadi bagian aktif dalam pengembangan kawasan ini melalui sinergi lintas wilayah dan juga lintas sektor,” ujarnya.

Pernyataan serupa juga datang dari Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo. Ia menyebutkan bahwa Kabupaten Klaten saat ini menempati urutan kedua sebagai penyumbang wisatawan terbanyak di Jawa Tengah. Bahkan, pemerintah setempat telah merilis kalender agenda wisata secara khusus untuk menyambut tahun 2026.

“Sekarang kami sudah mulai dilirik oleh turis-turis dari mancanegara. Kekuatan kami ada di desa,” ucapnya.

Meski demikian, Hamenang menyadari pihaknya masih memiliki beberapa pekerjaan rumah yang membutuhkan kolaborasi erat bersama Pemprov Jateng. Salah satu fokus utamanya adalah proses perancangan taman bumi atau geopark yang menyerupai konsep wisata di Kebumen. Mengingat Klaten menyimpan kawasan bebatuan purba yang sangat potensial, objek ini kelak dapat menjadi primadona baru yang melengkapi pesona candi dan mata air.

Sebagai strategi tambahan untuk memikat lebih banyak turis, Pemkab Klaten berencana membangun pusat olahraga guna mendongkrak tren pariwisata olahraga (sport tourism). Langkah ini sangat realistis mengingat letak geografis Klaten sangat strategis karena terhubung langsung dengan tiga gerbang tol, akses bandara, dan stasiun kereta api.

Sementara itu, Bupati Wonogiri Setyo Sukarno memaparkan keberhasilan daerahnya dalam mengembangkan sepuluh destinasi unggulan beserta serangkaian pergelaran pariwisata. Pemkab Wonogiri memasang target kunjungan hingga 438.000 wisatawan dengan cara mengoptimalkan 30 kawasan kampung wisata baru serta membekali warga melalui program pelatihan pembuat konten (content creator).

“Dalam upaya mendorong pengembangan ekonomi syariah, kami juga akan menetapkan pariwisata ramah muslim serta menerbitkan 8.933 produk bersertifikat halal, juru sembelih halal, dan pembiayaan syariah sebanyak Rp144 miliar,” lanjutnya.

Dukungan kolaboratif juga mengalir dari Wali Kota Surakarta, Respati Achmad Ardianto. Demi menyukseskan program pariwisata 2027 ini, ia berinisiatif mengajak seluruh kepala daerah yang hadir untuk merumuskan Rencana Induk Pariwisata Solo Raya secara bersama-sama.

“Kami sangat siap dan kami ingin mengajak seluruh kepala daerah untuk berkomitmen bersama membentuk rencana induk pariwisata Solo Raya,” tuturnya.

Guna memaksimalkan potensi ekonomi syariah di kawasannya, Pemerintah Kota Surakarta telah mengambil langkah konkret dengan mengembangkan sentra bisnis di kawasan Pasar Kliwon. Selain itu, mereka juga terus memajukan sektor wisata spiritual dengan mengoptimalkan peran Masjid Raya Sheikh Zayed.

Terakhir, Wakil Bupati Sukoharjo Eko Sapto Purnomo menegaskan kontribusinya dengan menerbitkan 22 Surat Keputusan (SK) terkait penetapan Desa Wisata. Tak hanya itu, Pemerintah Kabupaten Sukoharjo juga sukses membina lebih dari 400 sanggar dan kelompok kesenian tradisional yang tersebar merata di 12 kecamatan.

“Kami juga sudah punya Perda Pengembangan Pariwisata, hotel bintang lima, dan bintang tiga,” jelasnya mengakhiri pemaparan. (*)

Fajrul Amienurrahman Mahmud

LAINNYA